12.22.2010

Kekasih Jiwa

Ketika kami pertama kali bertemu, aku tahu, aku akan membuat kesalahan pada hal paling penting dalam hidupku. Gadis ini ti-dak secantik gadis yang diidamkan pria pada umumnya. Tapi, ia sungguh cerdas, mandiri, dan tidak seperti gadis lain yang aku kenal. Gadis ini mempunyai sesuatu yang luar biasa, yang tidak dimiliki para wanita lain. Entah apa, tapi ada sesuatu yang istimewa.

“Makan, ya?” aku menawarinya untuk kesekian kali.

“Aku sudah makan.” Indra, begitu nama gadis ini, menolak lagi.

“Kau diet, ya?” aku meledeknya.

Indra cuma tertawa, sambil mencubit pelan lenganku. Dia mencubitku karena malu, bukan karena genit.

“Kalau begitu, aku antar kamu pulang sekarang. Aku harus ke....”

“Aku tahu.”

Indra tersenyum tipis. Aku selalu tidak sengaja menyakiti hatinya. Indra masuk ke mobilku dan duduk dengan manis, tanpa menyentuh apa pun. Aku menjalankan mobil perlahan, sambil meliriknya. Ia tersenyum. Aku tahu, seperti apa perasaannya, setiap kali aku mengatakan kalimat seperti tadi. Ini malam Minggu, dan aku hanya punya waktu bersama Indra sampai pukul tujuh malam.

”Terima kasih sudah mengantarku,” Indra mengucapkan dengan sangat sopan.

Aku hanya mengangguk. Indra melangkah masuk pagar kompleks kos yang sederhana.

”Indra.” Panggilanku menghentikan langkahnya.

Indra berbalik cepat.

”Hampir lupa, aku membeli ini ketika pulang kerja tadi. Manis sekali.” Aku mengeluarkan keranjang besar kelengkeng bangkok.

”Kamu membelinya untuk aku?” Indra mendekat, tanpa mengu­lurkan tangannya.

Aku mengangguk. Padahal, sebenarnya, aku membeli oleh-oleh itu untuk Anne, tunanganku.

”Leo, terima kasih. Kamu baik sekali. Tapi, ini terlalu banyak.”

”Kamu bisa berbagi dengan teman kosmu, ’kan?

Indra mengangguk, lalu menerimanya. ”Kamu hati-hati, ya.”

Aku mengangguk. Sebenarnya, aku ingin sekali memeluknya untuk meminta maaf atas sedikit waktu yang aku sediakan untuknya. ”Jangan tidur terlalu malam, ya.”

Indra tersenyum, lalu mundur sedikit untuk menjaga jarak de-ngan mobilku. Ia melambaikan tangan dan aku meninggalkannya.

Anne sudah menungguku. Cantik. Nyaris sempurna. Aku menciumnya sekilas, lalu mengeluarkan kotak kue yang aku beli setelah mengantar Indra. Selalu seperti itu. Oleh-oleh yang aku siapkan untuk Anne, selalu saja akhirnya aku berikan pada Indra.

”Papa sudah menunggu untuk membicarakan soal gedung.”

”Ya. Maaf, terlambat. Banyak pekerjaan.”

”Tidak apa-apa.”

Anne menggandengku masuk ke rumah mewahnya. Tapi, tiba-tiba saja bayangan wajah Indra membuat perutku seperti kram. Tempat kos biasa dengan kamar-kamar kecil dan penghuninya yang sederhana. Alangkah bedanya.
Satu jam ke depan, aku hanya bisa melihat Anne begitu semangat membicarakan tentang pernikahanku dengannya. Lima bulan yang lalu, aku juga sesemangat itu. Tapi, pertemuanku dengan Indra sudah membawaku pada kekeliruan yang aku ciptakan sendiri.

”Kau buta atau bodoh, sih?” Gadis itu berkacak pinggang di depan mobilku, setelah bangun dari depan kap mobilku. Aku baru saja menabraknya. ”Kalau mau balapan, jangan di jalan raya, dong!”

”Maaf, saya buru-buru dan....”

“Kau bodoh sekali. Kau tahu lampu merah untuk apa?”

“Mbak, saya sudah bilang, saya....”

”Kau menabrakku!” Gadis itu makin keras berteriak dan orang-orang mulai berdatangan menonton, tanpa ada yang menolong.

”Saya minta maaf. Saya akan bawa Mbak ke rumah sakit dan....”

”Kau pikir, dengan begitu aku... astaga....” Gadis itu memegang pelipisnya. Darah menempel di jari-jarinya dan mulai mengalir di pipinya. ”Minggir!”

Aku ikut panik, tapi lebih panik melihat kemarahannya. Seperti orang bingung, aku membiarkan gadis itu masuk dan duduk di belakang setir. ”Cepat masuk!”

Aku betul-betul terkesiap. Lalu, aku mengambil tasnya dan me-masukkan isinya yang jatuh berantakan, duduk di sebelahnya.

”Mbak, tenang, biar.....”

”Diam! Aku tidak mau mati di jalanan.” Gadis ini dengan sigap melarikan mobilku, kencang sekali, sambil berteriak, ”Pasang sabuk pengamanmu!”

”Mbak, minggir, biar saya yang bawa, dan....”

“Diam! Kau akan lebih repot kalau aku mati di mobilmu.” Gadis ini membentakku dan terus memakiku sepanjang jalan, sambil tak henti-hentinya menyalip kiri-kanan dengan menyembunyikan klakson. Tidak sampai lima menit, gadis ini membawa mobilku ke sebuah rumah sakit yang seharusnya ditempuh dalam waktu lebih dari 15 menit. Dia turun dan berlari sendiri ke ruang UGD rumah sakit, sambil mengeluarkan kartu kreditnya.

”Kau memang gila. Namaku Indra. Siapa tahu diperlukan, kalau aku sampai mati di sini. Aduh, kepalaku sakit sekali,” gadis itu memberikan kartunya padaku, meraba kepalanya. Darah begitu banyak di tangannya. Ia berteriak, ”Kepalaku...!” Dan, dia pingsan.

”Saya betul-betul minta maaf.” Aku duduk di ruang perawatan setelah gadis bernama Indra ini siuman. Indra memandangku, tidak ada lagi kemarahan di matanya. Dan, aku tersihir dari cara dia memandangku. Matanya teduh sekali.

”Aku... saya....” Aku tergagap, saat matanya menatapku bingung.

”Sudah berapa lama aku di sini?” Indra memandang sekitarnya.

”Semalam.” Aku memberikan air putih.

Gadis itu duduk perlahan.

”Astaga, aku bisa dipecat kalau hari ini tidak masuk.”

”Ini sudah pukul sembilan pagi. Aku sudah menelepon kantormu.” Untung ada ID card perusahaan tempatnya bekerja. Karena, di dompetnya hanya ada KTP dan beberapa lembar uang sepuluh ribuan.

”Ruang perawatan kelas berapa ini?” Indra menatapku lagi.

”Kelas utama.” Aku memberikan teh manis hangat.

”Kau gila.” Indra membaringkan kepalanya perlahan di bantal yang diaturnya tinggi. ”Kau pikir, perusahaanku mau membayar ini. Jatahku hanya di kelas dua.”

”Saya yang akan membayar.” Aku memandang gadis itu. ”Sungguh, saya tidak bermaksud sombong atau apa. Anggap saja ini permintaan maaf saya atas kejadian kemarin.”

”Aku harus pulang sekarang.”

”Dokter akan melakukan scan kepala. Kau harus tetap di sini dulu.” Aku menyentuh lengannya untuk menenangkannya.

”Kau mampu membayar semua perawatanku?” Indra memandangku lugu.

“Maksimal sepuluh hari ke depan, aku masih mampu.”

”Terima kasih untuk semuanya.” Indra mengangkat punggung telapaknya. Jarum infus itu membuatnya sedikit kesakitan. ”Aku benci sekali dengan infus,” Indra menggumam, lalu tersenyum lucu, sambil melihat pakaiannya. ”Perawat yang memandikan aku, ’kan?”

”Ya. Aku minta kau dimandikan tadi pagi dan diganti semua pakaianmu, termasuk pakaian dalammu.” Aku merasa lebih relaks melihat senyumnya.

”Siapa yang membelikan pakaian dalamku?”

”Aku.”

”Aduh! Kau tahu artinya jika pria tak dikenal membelikan pakai­an dalam. Itu pertanda sial jodoh,” Indra mengumpat pelan. ”Aku mau gosok gigi.”

”Akan kubantu,” aku memapahnya ke kamar mandi, menyiapkan sikat dan pasta gigi, membantunya menyikat giginya.

Aku membantunya berbaring. Indra meraba kepala dan pelipisnya. ”Siapa yang memotong rambutku?”

”Perawat. Untuk memudahkan mengobati kepalamu. Ada beberapa jahitan di atas pelipismu. Jadi....”

“Kau utang banyak sekali padaku,” Indra menggumam.

”Aku tahu. Kalau ada keluargamu, aku bisa memberi....”

”Tidak perlu,” Indra menyahut cepat. ”Aku hanya ingin keluar dari rumah sakit.”

”Aku akan bicara dengan dokter. Kalau-kalau kau boleh berobat jalan.”

”Terima kasih,” Indra menatapku agak ragu. ”Kau terus di sini sejak kemarin?”

”Ya.” Aku melihat pakaianku. Lusuh dan tidak wangi.

”Sebaiknya kau pulang saja,” Indra mengernyitkan dahi. ”Di mana tasku?”

Aku mengambil tasnya dari dalam lemari.

”Boleh tolong ambilkan ponselku?”

”Mati. Pecah. Maaf. Akan kuganti nanti.”

”Yang sama persis. Itu hadiah dari mantan kekasihku.” Indra tertawa kecil, lalu meringis, merasakan sakit di pelipisnya. Aku ikut tertawa. Entah kenapa, aku malah berniat membelikan ponsel yang jauh lebih bagus lagi.

”Kau bisa pakai telepon ruangan ini,” aku menunjuk meja kecil di pojok.

“Ya. Aku akan menelepon kantor. Sebaiknya kamu pulang. Aku bisa minta temanku menunggui aku di sini.”

”Kau tidak apa-apa kalau aku tinggal sebentar?” aku ragu, enggan sekali meninggalkannya sendiri.

”Tentu saja. Tolong beri tahu dokter, aku ingin secepatnya keluar dari sini.”

”Oke. Tapi, sebaiknya aku bantu kau sarapan dulu.”

”Terima kasih. Aku memang lapar.” Mata gadis ini jujur sekali.

Dan, lima hari berikutnya, aku dengan setia menemaninya, setiap pulang kerja sampai pagi. Tak ada keluarga, teman kos, atau teman kantornya yang ikut menjaga. Mereka memang sering datang menengok, tapi tidak menginap. Itu membuatku bisa merawatnya, menyuapinya, membersihkan lukanya, membantunya menggosok gigi setiap pagi dan malam, membetulkan selimutnya saat dia terlelap tidur. Aku senang melakukannya sendiri. Indra adalah pasien yang manis, tidak rewel, dan sangat tenang. Indra tidak pernah mengeluh dan aku mulai jatuh cinta padanya....

Sepulang Indra dari rumah sakit, aku seperti sudah mengenalnya bertahun-tahun. Berminggu-minggu selanjutnya, aku begitu rajin menengoknya, mengantar dan menjemputnya dari kantor. Kami mulai saling membagi segala sesuatu, termasuk hati kami.

Dia sangat baik. Saat aku memberi tahu bahwa aku sudah bertunangan, Indra dengan halus meminta maaf padaku, karena dia telah berharap banyak untuk bisa bersamaku. Dan, aku tidak bisa meninggalkannya, sekalipun sudah aku coba puluhan kali. Gadis ini menyayangi aku dengan caranya sendiri. Ketulusannya membuatku rapuh.

”Sayang, bangun!” Aku tergeragap. Anne mengguncang pundakku keras. ”Kau kelihatannya capek sekali.”

”Aku banyak lembur, proyek di Cilegon membuatku kurang tidur.” Aku meneguk air yang disodorkan Anne.

”Tapi, hari ini kau janji mau ajak aku nonton, ’kan?

”Ya. Pasti.” Aku menegakkan dudukku. ”Papamu mana?”

”Kamu ketiduran. Kata Papa, pestanya dibicarakan besok saja.”

Aku memejamkan mata sekilas. Besok aku janji mengantar Indra ke Bogor. ”Ayo, berangkat. Nanti terlalu malam.”

”Kan kita memang mau nonton yang midnight.” Anne memandangku bingung. ”Kamu kenapa, sih?”

”Sorry, orang ketiduran kan nyawanya susah dikumpulkan.”

Indra akan tertawa terbahak-bahak kalau aku melucu. Tapi, Anne menanggapi dengan senyum kesal.

”Ya, sudah. Kita cari makan dulu.”

Aku memeluk bahunya. Tidak seperti dulu. Aku dulu menggenggam jarinya.

Aku menyetir perlahan. Anne mulai mencari-cari gelombang radio dan bernyanyi kecil. Pikiranku melayang. Indra selalu duduk manis dan mengobrol, sambil bercanda.

Esok paginya, Indra menanggapi telepon permohonan maafku dengan diam sejenak, lalu tertawa kecil. ”Tidak apa-apa. Aku juga diajak memancing oleh teman-teman. Ke Bogor-nya besok saja. Cuma mencari tas pesanan kakakku, kok.”

”Bagaimana kalau nanti malam kita cari di mal dekat sini?”

”Kakakku minta ganti tas yang sama persis dengan yang aku rusakkan. Dulu belinya di Bogor. Harus sama persis. Tapi, tidak harus buru-buru, kok.”

”Kalau begitu, nanti sore aku secepatnya ke tempatmu. Kalau tidak keburu, Sabtu atau Minggu besok, ya?”

”Oke.” Indra menutup ponselnya. Aku berniat menyelesaikan urusanku secepatnya dan akan mengajak Indra keluar, sekadar makan malam.

Setengah jam kemudian, aku duduk mendengarkan wedding planner yang mengoceh dengan semangat. Sementara mata orang-orang di sekitarnya, kedua calon mertuaku, calon istriku, dan calon pengiring pengantinku, berbinar-binar.

Ternyata, semua meleset dari dugaanku. Urusan ini menyita waktuku lebih dari seharian. Pukul sembilan malam, aku baru terbebas dari semuanya. Aku menghubungi ponsel Indra. Tidak aktif. Kutelepon tempat kosnya. Temannya menjawab, Indra ke Bogor bersama teman-temannya dan belum pulang.

Aku putuskan untuk pulang, masuk ke apartemenku dan merebahkan diri di sofa. Indra tidak pernah tergantung padaku. Dia akan menyelesaikanmasalahnya sendiri, sekalipun aku sudah berjanji akan membantunya. Indra juga tidak pernah menuntut janji, bahkan dengan manis akan mencoba membuatku merasa tidak bersalah. Hal-hal kecil yang makin membuatku jatuh hati padanya.

Waku seperti mengejar dan menuntutku. Mau tidak mau, aku harus melepas Indra. Aku kasihan terhadapnya, kalaupun aku harus mengeraskan hati mempertahankan Indra. Ketulusannya padaku, meluluhlantakkan diriku yang dikenal sebagai penakluk wanita.

Indra bukan wanita pertama yang menjadi selingkuhanku, selama aku menjalin hubungan dengan Anne. Aku seorang sarjana teknik, bekerja di lapangan sebagai perancang proyek bangunan besar. Seks menjadi sebuah kebutuhan bagiku. Perselingkuhanku dengan wanita-wanita itu hanya demi seks. Bukan cinta.

Uang bukan masalah besar bagiku. Gaji sebulanku tidak habis dalam tiga bulan, di luar lembur dan bonus lain. Kadang-kadang aku tergoda memancing Indra untuk berbuat iseng, seperti yang aku lakukan bersama dengan wanita-wanita sebelumnya. Tapi, tatapan matanya, ketulusan dan pengertiannya, membuat aku lunglai. Mata Indra penuh dengan cinta, atau lebih tepatnya penuh kasih sayang. Aku sungguh menyayangi gadis ini dan tidak ingin menyentuhnya....

”Hai,” Indra menyapaku ramah, sambil duduk di sampingku. Aku menjemputnya di kampus, tempatnya mengambil kuliah malam.

”Hai,” aku mencium pipinya, mengacak rambutnya, dan menjalankan mobil perlahan. ”Bagaimana kuliahmu?”

”Ada dosen yang memintaku mengulang ujian.”

”Kenapa begitu?”

”Aku membuatnya kecewa dengan nilai C.” Indra tertawa. ”Aku lapar sekali. Sejak siang belum sempat makan.”

”Kau mau makan apa?”

Aku selalu ingin memanjakannya. Terkadang aku mengira, aku hanya kasihan melihat keadaan Indra yang kelihatannya miskin. Bekerja dan kuliah, kadang-kadang masih saja dia mengajar les privat anak-anak sekolah. Tapi, sekarang aku tahu, aku kagum, bukan kasihan. Sekalipun keadaannya seperti orang yang kekurangan uang, belum pernah sekali pun aku mendengar Indra mengeluh soal uang. Bahkan, dengan senang hati memberikan uangnya untuk para pengemis di setiap lampu merah. Indra mempunyai kebaikan hati yang alami.

”Kau kurus sekali,” Indra memandangku dengan sayang.

”Terlalu banyak memikirkan kamu,” aku bercanda, sambil meraih kepalanya dan mengecupnya. ”Ayo, kita cari makan. Biar aku gemuk lagi.”

Indra tertawa kecil. ”Aku ingin makan ayam fast food.”

”Aku juga ingin.” Aku tersenyum, membelokkan mobil ke arah Stasiun Cikini. Anne tidak pernah mau makanan tidak sehat seperti itu. Tapi, Indra begitu suka menikmati ayam crispy. Indra membuatku ikut bersedia berdiri mengantre untuk mendapatkan makanan ini.

”Kamu baik sekali,” Indra selalu mengatakan kalimat itu, setiap kukabulkan permintaannya. Aku memang selalu mengabulkannya.

”Kamu juga,” kugenggam jarinya. Tak sehalus tangan Anne.

”Enak?” Aku tertawa melihatnya menyesap tulang ayam.

”Enak sekali. Ini makanan yang cukup mewah untuk kantong mahasiswa yang harus membiayai kuliahnya sendiri. Kamu nggak suka, ya?”

Aku suka melihat caranya makan. Sejak pertama aku mengajaknya makan, sampai sekarang, caranya tetap sama: menikmati tanpa dibuat-buat.

”Aku suka, kok. Enak sekali.” Aku berusaha memberi kesan bahwa makanan ini sangat enak. Dan memang enak, meski kurang sehat.

”Ini untuk kamu,” seperti biasa, Indra memberikan dagingnya untukku, setelah mengupas kulit dan melolosi tulang-tulangnya. Gadis yang unik sekali. Aku melakukan hal yang sama dan memberikan kulit bertepung garing pada Indra.

”Aku mau pulang besok.”

Aku terbatuk. Indra cepat memberikan minum untukku.

”Ngapain? Kamu mau dinikahkan, ya?”

”Ngawur! Kamu, tuh, yang.... Maaf.” Indra terdiam sejenak. ”Ma-ma masuk rumah sakit.”

”Sakit apa?”

”Biasalah. Mama kan sering sulit menjaga makan. Darah tinggi, asam urat, entah apa lagi. Mamaku bandel banget.”

Aku memandang Indra. Gadis ini sungguh manis. Dia tidak pernah menarik perhatianku dengan hal-hal yang mempriha­tinkan. Biasanya, para gadis akan memanfaatkan kesusahannya untuk lebih menarik simpati pasangannya.

”Perlu aku antar?”

”Tidak usah. Aku biasa pulang sendiri, kok.”

”Berapa hari kamu di sana?” Aku merasa sudah ditinggalkan.

”Mungkin tiga atau empat hari. Aku cuti lima hari.” Kebetul­an tidak ada ujian

”Kau janji akan hati-hati.” Aku mengusap pipinya.

”Ya.” Indra mengambil tanganku, menggenggam erat, ”Kau juga, ya. Jangan tidur malam terus. Kau sudah terlalu kurus.”

”Aku janji.” Aku ingin sekali memeluknya dan memberikan apa saja untuk menebus rasa bersalahku, karena selalu membiarkan dia mengurus masalahnya sendiri.

”Kita pulang, yuk.” Indra mengajakku berdiri. Aku mengangguk dan menggandengnya keluar. Kami masuk mobil dengan diam.

”Leo, aku....”

”Ssst... aku tidak pisah dari kamu, Indra.” Aku memeluknya dengan sepenuh jiwaku. ”Aku sayang sekali padamu.”

”Aku suka, kok. Enak sekali.” Aku berusaha memberi kesan bahwa makanan ini sangat enak. Dan memang enak, meski kurang sehat.

”Ini untuk kamu.” Seperti biasa, Indra memberikan dagingnya untukku, setelah mengupas kulit dan melolosi tulang-tulangnya. Gadis yang unik sekali. Aku melakukan hal yang sama dan memberikan kulit bertepung garing pada Indra.

”Aku mau pulang besok.”

Aku terbatuk. Indra cepat memberikan minum untukku.

”Ngapain? Kamu mau dinikahkan, ya?”

”Ngawur! Kamu, tuh, yang.... Maaf.” Indra terdiam sejenak. ”Mama masuk rumah sakit.”

”Sakit apa?”

”Biasalah. Mama kan sering sulit menjaga makan. Darah tinggi, asam urat, entah apa lagi. Mamaku bandel banget.”

Aku memandang Indra. Gadis ini sungguh manis. Dia tidak pernah menarik perhatianku dengan hal-hal yang memprihatinkan. Biasanya, para gadis akan memanfaatkan kesusahannya untuk lebih menarik simpati pasangannya.

”Perlu aku antar?”

”Tidak usah. Aku biasa pulang sendiri, kok.”

”Berapa hari kamu di sana?” Aku merasa sudah ditinggalkan.

”Mungkin tiga atau empat hari. Aku cuti lima hari. Kebetulan tidak ada ujian.”

”Kau janji akan hati-hati.” Aku mengusap pipinya.

”Ya.” Indra mengambil tanganku, menggenggam erat, sambil berkata, ”Kau juga, ya. Jangan tidur malam terus. Kau sudah terlalu kurus.”

”Aku janji.”

Aku ingin sekali memeluknya dan memberikan apa saja untuk menebus rasa bersalahku karena selalu membiarkan dia mengurus masalahnya sendiri.

”Kita pulang, yuk.” Indra mengajakku berdiri. Aku mengangguk dan menggandengnya keluar. Kami masuk mobil dengan diam.

”Leo, aku....”

”Ssst... aku tidak pisah dari kamu, Indra.” Aku memeluknya dengan sepenuh jiwaku. ”Aku sayang sekali padamu.”

”Aku lelah, Leo. Antar aku pulang, ya.”

“Tidak mau nonton dulu?” Aku tidak ingin berpisah begitu cepat.

“Aku capek sekali. Pekerjaan kantorku banyak sekali hari ini.”

“Ya, sudah. Kau naik kereta pukul berapa?”

“Enam pagi.” Pukul lima besok, aku harus mengantar Anne ke bandara.

“Kau bisa sendiri?” Aku menatapnya dengan permohonan maaf.

“Tentu saja.” Indra tertawa, lalu mengangkat bahu. “Ayo.”

Kalau saja aku bisa mempunyai waktu berdua dengan Indra lebih banyak lagi, memanjakannya lebih lama lagi.

“Terima kasih, ya, makan malamnya.”

Indra berdiri di samping pintu mobil. Tubuhnya yang tinggi sedikit dibungkukkan untuk dapat berbicara denganku. Rambut pendeknya terterpa angin malam, menebarkan wangi samponya.

“Ya,” aku menjawabnya, sambil memegang tangannya. “Aku punya sesuatu buat kamu.”

“Apa lagi?” Indra tertawa.

Kukeluarkan kotak kecil dari sakuku, yang sedianya akan aku beri secara pribadi dan romantis. Tapi, toh, Indra bukan gadis yang menganggap keromantisan sebagai hal penting. Dia selalu bersikap sewajarnya dan biasa saja untuk hal-hal yang bahkan menyanjungnya.

“Ini apa?”

Aku mengeluarkan kotak kecil yang sangat bagus.

“Nanti saja kau buka sendiri,” kujawab sambil tersenyum.

“Terima kasih, kau baik sekali.”

Astaga... kalimat itu selalu membuatku makin sayang padanya. Matanya memperlihatkan ketulusan ucapannya, bukan kerakusan.

“Besok hati-hati, ya.” Aku melepas tangannya.

Indra seperti biasa mundur dan melambaikan tangannya. Jam ta-ngan platina seharga satu kali gajiku yang urung aku berikan pada Anne, karena ternyata dia memakai jam tangan yang harganya dua kali lipat mahalnya dari yang aku beli, akhirnya untuk Indra juga.

Menunggu Indra selama lima hari membuatku merasa sudah berbulan-bulan tidak bertemu Indra. Berpuluh SMS aku kirim setiap hari, dan Indra membalas seperlunya. Tapi, aku tidak peduli, aku memang ingin terus mengiriminya kabar.

“Sayang, jangan lupa, besok kita mengepas pakaian, ya?” Anne mengultimatum.

Mati aku. Aku sudah janji akan menjemput Indra di stasiun besok.

“Jam berapa, sih?” Aku memang lupa. Bahkan, kalau Anne tidak meneleponku, aku juga akan lupa menjemputnya.

“Tuh, kan selalu lupa. Besok pukul lima, sepulang aku dari kantor. Kita ketemu di bridal saja, ya,” Anne memandangku manja.

“Oke.”

“Ya, sudah, ayo jalan. Kok, bengong?”

“Kita mau ke mana?” Aku memang linglung.

“Ya, ampun, Sayang... kita mau ambil undangan pernikahan kita!” Suara Anne meninggi. “Setelah itu, kita jemput mami-papimu di bandara. Lupa juga?”

“Sorry,” aku menggumam pelan. Aku memang lupa semuanya. Tiga hari tidak bertemu Indra membuatku benar-benar senewen. Aku menarik napas dalam dan menjalankan mobil cepat.

“Sayang, arah bridal ke kiri, bukan ke kanan!” Anne sedikit menyentak kesal.

“Sayang, aku mau ke apotek depan sebentar. Kepalaku sakit, mau flu kayaknya.” Aku beralasan cepat. Aku tidak pernah berbohong pada Indra.

“Bilang, dong!” Anne menyahut kesal dan tangannya mulai mencari-cari gelombang radio kesayangannya.

“Berapa kau cetak undangannya?” aku bertanya.

“Enam ratus,” Anne menjawab semangat.

Berarti kemungkinan satu juta orang lebih yang akan hadir.

“Kau sudah menyiapkan daftar semua undangan kita?”

“Sudah, dong!”

“Tidak ada yang terlupa seorang pun?” Aku heran, sebegitu banyak nama, bisa tidak ada yang lupa.

“Tentu saja tidak! Termasuk Indra!”

Aku tersentak kaget, mengerem mobilku mendadak. Aku tahu betapa pucatnya wajahku.

“Kau kaget?” Anne dengan tenang memandangku.

“Dia....”

“Hanya teman?” Anne tersenyum menakutkan. “Leo, Indra tidak berarti apa pun untuk aku. Wanita itu tidak akan memengaruhi pernikahan kita sedikit pun. Aku sama sekali tidak cemburu, apalagi sakit hati.”

Dari mana kamu tahu Indra?” Aku menahan napasku.

“Tidak penting dari mana aku tahu, ‘kan? Aku sudah bilang, Indra tidak berarti apa-apa pada hubungan kita. Dia cuma wanita murahan yang biasa kamu ajak tidur, ‘kan?”

Kata-kata Anne membuatku menahan gemeretak gigiku. Tenggorokanku tersekat. Aku menjalankan mobil perlahan dan diam. Bukan karena rasa bersalah pada Anne, tapi justru karena kemarah-anku. Indra tak pernah tidur denganku, dan Indra tidak murahan....

Malam ini, aku menjemput Indra di kampusnya. Aku menatap Indra dengan beribu rasa. Gadis ini memandangku kasihan, atau aku sendiri yang terlihat kasihan, atau aku bahkan tidak tahu siapa yang seharusnya dikasihani.

“Tidak apa-apa kamu menikah.” Indra mengambil tanganku. “Toh, sewaktu aku mengenalmu, kamu sudah bertunangan.”

Aku tidak sanggup untuk bicara. Memandangnya saja aku tak sanggup. Dia mengetahui semua isi hatiku, sebelum aku ucapkan.

“Aku juga sayang sekali padamu, Leo.” Indra jarang sekali meng-ucapkan kalimat ini. Aku tahu dia tidak berbohong. “Kamu bisa pergi dari aku kapan saja kamu mau. Kamu bisa datang padaku kapan saja kamu mau.”

“Kau tidak akan pergi dari aku?”

Aku menatap matanya, terperanjat dengan jawabannya. Gadis ini selalu menganggap diriku sangat istimewa.
Mata bening Indra menatapku, tanpa air mata. “Apa kamu lihat aku bisa meninggalkan kamu?”

“Anne akan terus menyakitimu, kalau kau tidak pergi dariku.”

“Leo, kalau aku pergi dari kamu, bukan karena aku tidak mampu menanggung penghinaan Anne. Tapi, karena aku tidak tahan merasakan kamu disakiti Anne.”

“Indra, bisakah kita....”

“Aku mau pulang, Leo.”

Indra berdiri terhuyung. Aku merangkulnya dan keluar dari rumah makan yang cukup tertutup. Anne pasti membuntuti aku. Atau menyuruh orang mengikutiku, ke mana pun aku pergi.

“Maafkan aku, Indra,” aku berbisik halus.

Indra hanya menggangguk.

Aku hampir tidak kuat merasakan sakitnya hati Indra. Anne mendatangi Indra minggu kemarin dan berbicara keras di tempat kosnya. Indra tidak pernah mengadu padaku. Tapi, aku tahu, itu akan dilakukan Anne, seperti ancaman sebelumnya, saat aku menjelaskan Indra tidak bersalah. Sepanjang jalan, Indra memeluk lenganku, seakan takut sekali kehilangan diriku. Aku sudah membawa gadis ini pada suatu keadaan yang sungguh menyakitkan. Seperti simalakama bagiku, baginya....

“Kau mau pulang ke tempatku, Indra?” aku berbisik pelan.

“Aku tidak tahu, Leo. Aku takut sekali.”

Untuk pertama kalinya aku melihat Indra meneteskan air mata, membasahi lengan kiriku. Suara Indra sungguh mengiris hatiku.

“Aku mencintai dirimu, Leo. Aku tidak bisa berpa­ling.”

Pagi ini, kudapati Indra tertidur di pelukanku, tanpa busana....

Dan pagi berikutnya, Indra menghilang....

Lima tahun kemudian….
“Pulang, Ndra?” Saskia memasukkan barang-barangnya ke dalam tas, sambil memandang Indra dengan khawatir. “Kau sakit, ya?”

“Tidak, hanya kurang tidur,” Indra menjawab malas. “Mau pergi ke mana?”

“Pulang. Aku capek banget,” Saskia melambaikan tangannya.

Indra membalas tanpa menoleh.

“Mau pulang, Ndra?” tiba-tiba Dewa sudah berdiri di depannya. “Bareng?”

“Aku mau ke....”

“Aku antar,” Dewa memotong cepat. “Kau tidak bawa mobil, ‘kan?”

“Iya, sih. Tapi, aku ditunggu Saskia di bawah.”

“Ya. Sudah.” Dewa mundur. “Hati-hati, ya.”

“Thanks.”

Indra menarik napas, memerhatikan punggung jangkung Dewa meninggalkannya. Dia begitu baik padaku. Tapi, aku mencintai Leo.

Indra masuk mobil Saskia dan memasang sabuk pengaman. “Antarkan aku ke toko buku terdekat, dong.”

“Okay, bos.”

Saskia melambaikan tangan pada Dewa yang berdiri di lobi kantor, sepertinya ingin memastikan bahwa Indra tidak berbohong.

“Sebaiknya aku pulang saja. Pusing sekali.”

Indra membelokkan rencananya.

“Kurasa Dewa orang yang cukup layak buat kamu,” Saskia berkomentar, sambil memutar arah menuju apartemen Indra. “Tampan, cerdas, dan kaya.”

“No comment,” Indra menjawab sambil menurunkan sandaran. “Bangunkan aku, kalau sudah sampai rumahku.”

“Kamu yang nebeng, kok, jadi aku yang repot? Ha...ha...ha.... Masih memikirkan pria rahasia itu?”

“Jangan memulai.” Indra menutup wajahnya dengan saputangan.

“Ia makin sukses.” Saskia mengambil surat kabar di dashboard. “Dia menguasai semua proyek raksasa di Jabotabek. Lihat ini.”

Indra melihat ke koran yang belum sempat dibacanya. Gambar Leo sedang bersalaman dengan salah satu menteri, sambil memamerkan senyumnya yang khas.

“Ia tahu betul harus menikahi siapa. Mertuanya membawanya menjadi kontraktor paling hebat di negeri ini.”
Indra membaca beritanya sekilas dan melipatnya lagi.

“Aku heran, bagaimana kau bisa menjadi simpanannya?”

“Gila kamu. Aku bukan simpanan.”

Indra mengambil ponselnya yang bergetar lalu mematikannya. ”Dewa.”

“Kurasa, dia jatuh cinta betul padamu. Kenapa kau tidak berpacaran saja dengan Dewa?”

“Karena, aku memang tidak ingin berpacaran.”

“Atau, karena pria rahasiamu itu? Kau yakin akan menunggunya sampai bongkok? Itu pun kalau dia masih ingat padamu....”

“Kau lapar?” Indra memutuskan pembicaraan.

Saskia tertawa keras. “Ada restoran Prancis yang baru buka dekat tempatmu. Mau coba?”

“Sure,” Indra menjawab sambil mengambil dompetnya. “Kau yang bayar, ‘kan?”

Saskia tertawa lagi, membelokkan mobilnya, masuk parkir gedung berlantai tiga puluh dua itu.

Indra duduk sambil membaca memo, menunggu Saskia keluar toilet. Kebiasaan Saskia setiap naik lift lebih dari sepuluh lantai.

“Bu Indra?” seseorang dengan seragam safari berdiri di depannya.

Indra berdiri memandangnya, bingung. “Ya?”

“Bisa saya bicara sebentar?”

“Tidak,” Indra memutuskan cepat. Otaknya terus mengingat kapan dan di mana dia bertemu dengan pria ini. Tapi, rasanya memang seperti kenal.

“Maaf, Bu. Saya....”

“Maaf. Saya harus pergi.”

Indra masuk ke toilet. Indra melihat pria itu masih berdiri memandangnya, saat dia dan Saskia keluar toilet, bahkan sampai masuk ke dalam restoran.

“Kau kenapa?”

“Kupikir, ada yang mengikutiku.” Indra menarik buku menu.

“Wajar. Kau simpanan orang hebat di negeri ini.”

“Otakmu itu selalu ngeres. Aku sudah bilang, setelah Leo menikah, aku tidak pernah bertemu dia lagi.”

“Ya. Tapi, kau terus mengurung hatimu untuk Leo, ‘kan? Seperti katak dalam tempurung saja.”

“Menyebalkan sekali bicara denganmu.”

Indra menuliskan menunya.

“Nih, tentang Leo lagi.”

Saskia mengeluarkan sebuah tabloid bisnis. Indra menariknya dan membacanya sekilas seperti biasa. Gambar Leo memeluk Anne dan menggandeng anaknya, terlihat layaknya sebuah keluarga yang bahagia. ‘Profil keluarga Sukses.’ Indra membaca dalam hati, sambil tersenyum kecil.

“Leo tidak bahagia.” kata Saskia. “Nanti kujilid lagi.”

“Dari mana kau tahu?” Indra terperanjat mendengarnya.

“Matanya. Pria tidak bisa menyimpan matanya. Sikapnya juga kaku.”

“Sok tahu. Leo memang selalu bersikap kaku, kok. Sebaiknya kita makan sajalah.”

“Itu pria yang membuntuti kamu?”

Saskia melirik ke arah pojok. Indra meliriknya dan hampir tersedak. “Ya.”

“Kau lihat ini?” Saskia membuka korannya, menunjuk orang di belakang gambar Leo. “Mirip, ‘kan? Pasti salah satu pengawalnya.”

“Astaga....”

“Berarti, ada dua kemungkinan: Leo masih mencari kamu, atau Anne yang mencari kamu.”

“Semoga tidak dua-duanya,” Indra berkata sungguh-sungguh.

“Masa pengawalnya yang jatuh cinta sama kamu?” Saskia tertawa. “Lagi pula, ngapain dia membuntuti kamu, kalau bukan karena suruhan majikannya.”

“Cepat makan dan kita pulang. Kepalaku sakit.”

“Kepalamu atau hatimu?” Saskia ikut berdiri.

“Dua-duanya.” Indra menertawakan dirinya sendiri.

Indra membuka apartemen kecilnya dan menyalakan AC ruangan. Telepon rumahnya terus berdering, tapi dia memang malas mengangkatnya. Bahkan, saat beralih ke ponsel, Indra juga tidak mengangkatnya. Penelepon tanpa identitas.

Indra membuka map hitamnya, memeriksa semua potongan berita tentang Leo lima tahun terakhir, kesuksesan sebagai kontraktor nomor sekian di Jakarta. Minimal setiap minggu, wajahnya muncul di majalah, koran, tabloid, atau bahkan di televisi. Anne telah menjadikannya sangat sukses, dan aku telah menjadikan dirinya hanya sebagai orang yang mencintai diriku....

Indra menyalakan televisi. Seperti biasa, kilasan berita kecelakaan dan kematian mewarnai televisi. Lama-kelamaan, Indra terlelap juga.

“Kau harus baca ini,” bisik Saskia, sambil menaruh koran pagi di meja kerjanya, lalu keluar ruangan Indra.
Indra tidak perlu membuka halaman bisnis. Judul di halaman pertama membuat jantungnya hampir berhenti. Mertua Leo ditangkap polisi terkait dugaan kasus....

“Kau seperti habis dipaksa minum obat.”

Delia, yang sedang membahas pekerjaan dengannya, tertawa sambil menarik korannya. “Pria tua ini pantas dihukum mati.”

“Kamu dendam sekali?”

“Kau nggak nonton TV, ya?” Delia memandangnya dengan wajah kesal. “Kontraktor ini yang membuat gedung parkiran itu runtuh dan menewaskan seratus orang lebih. Kau tahu, menantu kesayangannya yang membangun gedung itu.”

“Tidak mungkin.”

“Baca saja beritanya,” Delia menunjuk isi koran. “Biar tahu rasa menantunya itu. Aku sudah merasa bahwa menantunya itu, yang selalu disanjung-sanjung pemerintah, ternyata tukang korupsi juga.”

“Kok, kamu yang sewot?” Indra tertawa kecil. “Kita kembali ke pekerjaan....”

“Oke.” Delia membuka laptopnya. “Minggu ini kamu punya jadwal ke Bali, Madura, dan Bangka.”

“Bangka?” Indra tertawa. “Apa mereka juga suka mendengarkan musik?”

“Aku atau kamu, sih, bosnya?” Delia menghentikan tawa Indra.

“Okay.” Indra melipat korannya. “Lalu?”

“Di Madura ada penyelenggara lokal. Kamu hanya perlu memastikan semuanya sudah beres. Yang terpenting adalah izin kepolisian dan penginapan untuk crew pemusik.”

“Sponsor?”

“Ya, termasuk ini.” Delia memberikan daftar sponsor. “Jangan lupa kau temui pejabat setempat. Selebihnya, dari dua hari kau di sana, biaya ditanggung sendiri.”

“Big boss mulai bangkrut, ya?”

“Bagaimana tidak bangkrut? Dia kan menanggung hidup dua wanita pemboros: istrinya dan Saskia simpanannya itu.” Delia memukulkan map di kepala Indra. “Kamu pura-pura tidak tahu! Kamu kan teman baiknya.”

“Kamu cemburu?” kata Indra, sebelum Delia menutup pintu kaca ruangannya dengan keras.

Indra menyalakan televisi yang tidak henti-hentinya menyiarkan kecelakaan gedung dan penangkapan Tanjaya, terkait kasus itu. Nama Leo juga disebut-sebut sebagai rekanan, yang membuat gedung itu lemah bangunan.

“Taruhan, tidak sampai dua minggu, dia akan lolos dari tahan­an dan kasus ditutup. Lihat saja.”

Dewa sudah duduk di depannya mengomentari berita.

Indra tidak menanggapi dan memberikan file untuk ditandatangani. “Kata Delia, kau ke India bulan depan?”

“Kau ikut, ya?” Dewa menatapnya dengan harapan.

“Ingin, sih, tapi....”

“Aku akan bilang pada Pram untuk menugaskan kamu juga. Atau, aku belikan tiket.”

“Menyenangkan.” Indra tersenyum. “Tapi, tidak. Terima kasih.”

“Bagaimana aku bisa mencapai pintu hatimu?” Dewa berdiri dan membawa mapnya pergi.

Indra menatapnya.

“Indra,” kepala Dewa menyembul lagi di pintu, “mau makan siang bareng?”

“Ya. Aku mau.” Indra tersenyum dan kepala Dewa menghilang.

Indra mengembuskan napasnya keras-keras dan mulai menelepon.

Pulang kerja, Indra mampir di swalayan dan pulang sudah larut. Ia merasakan malam ini panas sekali. Dia bangun untuk memastikan AC tidak mati, lalu duduk di dapur kecil, sambil membuka koran sore yang dibelikan Saskia untuknya. Wajah-wajah Leo mulai bermunculan setiap hari, setelah berita kasus Tanjaya, mertuanya, makin ramai. Dia mengambil botol mineral dari kulkas dan beranjak ke ruang tamu, duduk di sofa, sambil meneguk air es.
Indra terlonjak, saat terdengar bel pintu dan lampu berkedip di atas pintu apartemennya. Indra mengintip dari kaca lup, seorang pria bersafari berdiri seperti terburu-buru. Pria yang menyapanya di restoran dulu. Perlahan Indra membuka pintu dengan tetap mengaitkan rantai pintu.

“Terima kasih, Bu Indra mau membukakan pintu,” pria itu meng­angguk sopan. “Kami mau minta bantuan untuk....”

“Leo....” Indra membuka rantai pintu dan pria itu memapah Leo yang terduduk lesu, seperti sedang mabuk. Indra cepat menutup pintu, menguncinya lagi.

“Maaf, kami mengganggu, Bu,” pria itu mendudukkan Leo. “Saya Haris.”

“Ya,” Indra menjawab singkat, lalu melihat ke arah Leo. “Dia....”

“Mabuk. Pak Leo terus dikejar banyak orang.” Haris tidak perlu menjelaskan lagi, setelah Indra menerima koran lain dari Haris dan secepatnya Indra membaca.

“Pak Leo minta bertemu Bu Indra,” Haris berkata perlahan.

Indra tidak tahu harus bagaimana. Bertahun-tahun dia hidup dalam bayangan Leo, dan sekarang Leo ada di depannya, terkulai lemas.

“Bagaimana kalau orang tahu Leo di sini?” Indra melirik korannya.

“Sudah menjadi tugas saya menjamin keselamatan Bu Indra dan Pak Leo.” Haris menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk menunjukkan betapa dia memohon padanya. “Boleh kami minta minuman hangat?”

“Akan saya buatkan kopi panas.” Indra bangkit.

“Terima kasih banyak.” Haris menegakkan kepala Leo yang terkulai lagi.

“Bagaimana dengan Anne?” Indra membuat kopi secepat mungkin.

“Bu Anne dan putrinya sudah di Singapura.” Haris menerima cangkir kopi.

“Kenapa Leo tidak ikut?”

“Pak Leo tidak mau meninggalkan Anda.”

“Apa?” Indra seperti tersengat listrik.

“Pak Leo lebih memilih di Jakarta untuk memastikan Bu Indra baik-baik saja.”

“Bagaimana dia tahu saya ada di sini?” Indra memandang ke arah Leo tanpa bisa melakukan apa-apa.

“Pak Leo tidak pernah meninggalkan Ibu. Sayalah yang ditugaskan selama ini untuk memastikan Bu Indra baik-baik saja.”

“Astaga....” Indra duduk dan kembali melihat ke arah Leo yang mulai bergerak.

“Kopi, Pak.”

Haris mendekatkan gelas kopi ke Leo, dan Leo menyeruputnya keras. Lalu, kepalanya lunglai lagi di atas sandaran sofa.

“Di mana kamar mandi?”

Indra menunjuk pintu di depan dapur. Haris memapah Leo masuk kamar mandi. Indra duduk dengan linglung dan merasakan udara menjadi sangat dingin. Leo keluar kamar mandi tanpa dipapah lagi, berjalan mendekati Indra sambil menatapnya.“I’m so sorry....” Leo tiba-tiba memeluknya, sambil menangis keras.

Indra benar-benar bingung, lalu melepaskan Leo perlahan dan mendudukkannya di sampingnya.

“Maafkan aku, Ndra. Aku meninggalkanmu begitu lama.”

“Kau lebih baik istirahat.” Indra menariknya ke kamar sebelah. “Kau tidur saja, besok kita bicara.”

Haris membantu Indra menyelimuti Leo.

“Ndra....” Leo memegang tangan Indra.

“Leo.” Indra menahan sesak hatinya. “Kau akan baik-baik saja. Aku ingin kau beristirahat dulu.”

“Aku tidak bermaksud untuk meninggalkanmu begitu saja....”

“Aku tahu,” Indra membiarkan saja air matanya jatuh. “Aku akan temani kamu.” Indra menarik sofa kecil dan duduk di samping tempat tidur. Aku mencintai Leo lebih daripada aku mencintai diriku sendiri. Indra menggumam dalam hati, sambil menggenggam tangan Leo, menatap mata Leo yang setengah sadar. Matanya bengkak dan di wajahnya terlihat bekas memar biru.

“Kau tidak menciumku?” Leo berbisik serak, berusaha tertawa.

“Aku tidak mau kehilangan dirimu lagi.” Indra mengambil ta­ngan Leo dan meletakkan kepalanya di atas tangan Leo. “Kau harus tidur.”

“Ya. Aku memang lelah sekali.” Leo mencium keningnya dan memeluk kepala Indra. “Kau mau naik ke tempat tidur?”

“Tidak usah.” Indra tersenyum kecil. “Tidurlah.”

“Aku tidak membunuh siapa pun, Ndra. Aku tidak mencela-kakan siapa pun.”

“Aku percaya,” jawab Indra halus. “Kecelakaan gedung itu....”

“Ndra...,” Leo berbisik. Ada aroma segar dari mulutnya. Pasti Leo berkumur dengan pasta gigi, mengulang kebiasaannya dulu saat malas gosok gigi.

Indra menatap mata lelah Leo. “Ya.”

“Aku mau kau percaya bahwa aku tidak pernah meninggalkanmu.” Mata Leo berkaca-kaca. “Aku mencintai dirimu dengan....”

“Aku percaya. Aku percaya sekarang kamu istirahat. Besok banyak waktu untuk....”

“Tidak, Ndra. Besok mungkin aku sudah mati. Ndra....”

Leo menciuminya dengan halus sekali. Indra melihat Haris datang menyentuhnya dan Indra merasa sangat ngantuk, lalu terlelap tanpa sadar....

“Leo!!!!” Indra berteriak keras, sambil terlonjak bangun. “As-taga, aku mimpi?”

Indra berlari keluar. Tidak ada gelas kopi di mejanya. Semua tampak rapi dan tidak ada bekas tamu semalam. Indra duduk de­ngan linglung, mengambil air mineral di meja kaca dan tertegun. “Astaga... aku bermimpi.”

Indra melihat dapur. Bersih dan tidak ada gelas kotor. Seharusnya ada setumpuk gelas dan piring kotor. Indra menyelidik, membuka rak piring lalu tersenyum. Haris tidak meletakkan cangkir pada tempatnya. Aku tidak bermimpi.

Indra mengguyur badannya dan berpakaian dengan sangat cepat. Hari ini ada jadwal bertemu klien di luar kota. Sebelum turun ke tempat parkir, Indra menyempatkan diri untuk menarik uang tunai di ATM. Dengan cepat dia melarikan mobilnya ke kantor.

“Kau seperti dikejar setan.”

Saskia menyambutnya dengan secangkir kopi.

“Bos di mana?”

“Sudah berangkat ke Bandung. Kenapa?”

“Aku ingin minta orang lain untuk menggantikan aku meeting.”

“Jangan memohon padaku untuk menggantikan kamu. Aku sedang bangkrut. Kau bilang akan membayar utangmu hari ini.”

Indra mengambil uang yang baru ditariknya. “Dua ratus ribu du-lu. Aku lupa butuh cadangan dana ke luar kota.”
Indra melihat berkas transaksi dari ATM dan hampir berteriak.

“Kenapa? Apa aneh kalau uangmu selalu habis? Biaya melamunmu dan keluyuranmu ke gedung bioskop kan tidak murah! Kalau masih ada sisa uang, kasih aku siang nanti, ya. Aku benar-benar malas ke bank.”

“Ya.” Indra menjawab sambil melihat berkasnya lagi dengan tidak percaya. Ada tambahan dua digit angka. Dari mana datangnya uang sebanyak ini? Astaga... mungkinkah Leo?

Indra berusaha berkonsentrasi dengan pekerjaannya dan dia bersyukur ada orang lain yang bersedia menggantikannya menemui kliennya di Banten. Pikirannya terus melayang, memikirkan di mana dan bagaimana Leo sekarang. Dia seperti bermimpi memeluk Leo semalam. Tapi, sekarang Leo menghilang lagi seperti dulu.

Dewa mengetuk pintu ruangannya.

“Masuk.” Indra menutup laptopnya, tersenyum. “Kau rapi sekali.”

“Ada janji makan siang.” Dewa tersenyum. “Kau mau ikut?”

“Kalau tidak mengganggu.”

Tidak ada salahnya menyenangkan Dewa. Dia selalu baik padanya.

“Sangat tidak mengganggu. Tapi, jangan bawa Saskia, ya.”

“Okay.” Indra menatap Dewa keluar ruangannya.

Indra merasa dadanya terus berdesir mengingat kejadian tadi malam. Leo datang utuk bersembunyi atau memang menginginkan dekat dengan dirinya?

Saya akan memastikan Bu Indra baik-baik saja.... Di mana Leo?

“Kau seperti baru kesetrum listrik.” Saskia membuatnya terkejut. “Koran terbaru. Dia dicari-cari polisi.”

Indra membacanya. Dua hari sebelumnya Leo dikeroyok massa yang kesal karena pembebasan Tanjaya sebagai tahanan rumah. Sehari setelahnya, polisi terus mencari Leo, karena salah seorang pengeroyoknya hilang dan ditemukan meninggal dengan luka-luka yang parah mengenaskan. Diduga, Leo yang melakukannya. Bahkan, Tanjaya sendiri berharap Leo cepat ditemukan. Rupanya, polisi mencari semua orang yang terkait dengan Leo.
Indra ingin sekali memuntahkan isi perutnya. Kepalanya tiba-tiba menjadi sakit dan pandangannya berkunang-kunang. “Ndra....” Saskia mengguncangnya, sambil memberikan teh manis.

Indra meneguk habis teh manisnya.

Saskia memandangnya khawatir. “Kamu tidak apa-apa?”

“Ya.” Indra melihat jamnya. “Aku mau makan dengan Dewa.”

“Sejak kapan kamu makan siang dengan Dewa? Kau akhirnya membuka hatimu untuk pria sempurna itu?”

“Paling tidak aku bisa terhindar dari koranmu yang makin panas beritanya.” Jawaban Indra membuat Saskia tertawa, lalu meninggalkan ruangannya.

Indra duduk di samping Dewa, sambil terus memikirkan Leo.

Leo membunuh? Aku terlalu percaya, aku tidak mengenalnya atau semua memang sudah berubah? Bagaimana kalau polisi atau orang lain tahu, semalam Leo ada di tempatku?

Dewa menyalakan radio. Hampir semua saluran menyiarkan berita yang sama. Semua orang memburu Leo. Dan, semua berita bertanya, di mana Leo?

“Akhirnya, Leo kena batunya?” Dewa mengomentari.

“Maksudmu apa?” Indra terenyak kaget.

“Kau tidak lihat? Semua proyek besar di negeri ini diambilnya.”

“Pasti karena mendapat dukungan pemerintah juga, ‘kan? Jadi dia tidak salah sendirian, dong?”

Entah kenapa tiba-tiba Indra ingin sekali membicarakan Leo. “Harusnya, semua pejabat yang terlibat juga ditangkap.”

“Masalahnya, sekarang bukan korupsi yang dituduhkan, tapi pembunuhan.”

“Leo tidak mungkin membunuh.”

Indra kaget dengan jawaban dirinya sendiri.

“Kurasa juga tidak.” Jawaban Dewa sangat mengejutkan. “Pasti ada konspirasi atau sesuatu yang sedang terjadi di negeri ini.”

“Kau seperti detektif saja.” Indra tertawa, sambil mengambil koran di jok belakang dan membukanya. Wajah Leo menempati hampir seperempat lebar koran Indra merasa dadanya sakit sekali. Tadi malam wajah ini begitu dekat denganku.

“Kau juga tertarik dengan berita itu?” Dewa menoleh sekilas.

“Aku tidak tertarik pada properti, politik, atau apalah. Kita bekerja di dunia intertainment. Jadi, aku rasa....”

“Sebenarnya, kasihan juga, sih, Leo. Dia jadi korban kerakusan para koruptor.”

“Kau kelihatannya kenal betul dengan buronan itu.”

“Omku salah satu rekannya dalam proyek-proyek besar.”

“Lalu?”

“Kok, jadi tertarik?”

“Naluri manusia, membicarakan hal yang sedang in.”

“Sebenarnya, yang dekat dengan orang-orang pemerintah itu memang Tanjaya, mertuanya itu. Dia yang melobi hampir semua proyek besar di Indonesia untuk menantunya. Kalau kita perhatikan, setiap kali sebuah proyek didapat oleh Tanjaya, ada saja pejabat yang mobil mewahnya bertambah atau istri-istri pejabat yang keluyuran ke luar negeri.”

“Kenapa kamu tidak bikin acara di televisi dengan program go-vernment gossip atau apalah?”

“Ini serius, Non.” Dewa menoleh, sambil tersenyum.

“Lalu, apa kaitannya dengan Leo?”

“Menurut kabar burung, Leo sebenarnya sudah tidak lagi mau mengerjakan proyek-proyek mertuanya. Kabarnya, dia malah akan mundur dan berbisnis sendiri secara kecil-kecilan.”

Indra merasa sedikit lega.

“Tidak ada yang ingin Leo mundur, kecuali para saingannya. Figur Leo adalah maskot bagi proyek-proyek besar, terutama bagi penyedia proyek-proyek pemerintah. Tanjaya sangat bermurah hati pada orang-orang yang bisa menggolkan tender untuknya. Baginya, Leo adalah mesin penghasil uang.”

“Kau benar-benar mengenalnya, ya? Bagaimana liputanmu tentang tuduhan pembunuhan Leo?”

Dewa memandangnya sekilas, seperti sedang berpikir sesuatu.

“Pasti saingan bisnisnya ingin menggantikan maskot properti. Kasus Tanjaya adalah bumbu terbaik untuk melenyapkan Leo.”

“Kalau memang Leo tidak membunuh, kenapa dia harus lari? Tidak menyerahkan diri saja untuk berlindung di kepolisian.”

“Kamu ini memang lugu. Orang yang dinyatakan buronan lalu menyerahkan diri, itu sama saja mengaku bersalah. Atau, mungkin dia berpikir malah masuk ke sarang musuh. Pejabat-pejabat hukum kan ada juga yang nyambi jadi kontraktor.”

Indra berusaha mencerna semua kata-kata Dewa, benar untuk pandangan umum. Tapi, apa benar seperti itu? Atau, memang Leo membunuh? Indra melihat ke spion lagi. Mobil merah itu masih terus di belakangnya, padahal mobil itu bisa mendahului mobil Dewa yang berjalan perlahan.

Dari mana uang yang ada di tabunganku? Orang salah transferkah? Siapa Haris sebenarnya?

Indra berusaha tenang sebisa mungkin saat makan siang dengan teman-teman Dewa. Tapi, tetap saja sepanjang makan siang, matanya tidak berhenti menyapu ruangan restoran yang sangat luas itu. Indra merasa ada banyak orang memperhatikan dirinya.

“Astaga, Dewa, aku lupa.” Indra menahan tangan Dewa yang siap menyalakan mesin mobil. “Aku harus mengambil uang untuk Saskia. Kau mau ikut turun atau mau menungguku sebentar?”

“Kau ke ATM dulu saja, aku bawa mobil ke lobi. Okay?” Dewa tersenyum. “Jangan lama-lama, ya.”

“Okay.”

Indra cepat turun mobil dan menuju pintu masuk kembali ke dalam mal. Ketika itulah sebuah ledakan besar terjadi, mobil Dewa meledak....

Indra merasa dirinya terpental membentur tembok dan berbenturan dengan beberapa orang lain. Dia ingin menjerit dan berlari mendekat, tapi instingnya membisikkan lain. Indra berjalan cepat masuk mal setenang mungkin dan menarik uang ATM semaksimal tarikan tunai dan keluar mal dengan cepat. Indra melirik berkas tarikan. Sisa uangnya masih sangat banyak.

Indra menyandarkan tubuhnya setengah tidur di jok belakang taksi dengan memegangi telinganya yang terus berdengung. Bukan hanya karena suara ledakan, tapi karena benturan ke tembok yang membuat Indra merasa kepalanya terus berdenyut.

“Terima kasih.” Indra mengulurkan uangnya dan pergi secepatnya sebelum sopir taksi mengembalikan sisa uang argo. Ia masuk apartemennya dengan tergesa, membuka lemari pakaiannya, dan mencari tas untuk mengepak pakaian.

“Saskia, cepat kau keluar kantor dan jemput aku di apartemenku. Sekarang!” Indra berteriak di telepon. “Nanti saja aku ceritakan.”

Tak sampai setengah jam, Saskia sudah datang. Seperti biasa dengan koran tentang pengejaran Leo. Indra menceritakan semua kejadian dari awal datangnya Leo sampai meledaknya mobil Dewa.

“Ya, ampun! Untuk sementara kau tinggal di tempatku saja. Paling tidak, rumahku lebih aman.”

“Ya.” Indra mengikuti Saskia masuk ke mobilnya dan....

“Tunggu.” Indra mencegah Saskia menyalakan mesin mobil. “Kita naik taksi saja.”

Saskia menjerit kecil dan keluar mobil dengan cepat, naik lagi ke tangga atas. Sepanjang jalan, mereka terus diam sampai di rumah Saskia yang bergerbang tinggi dan dijaga satpam.

Paling tidak selama seminggu atau dua minggu ini aku bisa tenang....

Ini sudah lebih dari dua bulan sejak kematian Dewa. Tidak sedikit pun namanya ikut disebut-sebut terlibat kecelakaan itu. Mungkin, tidak ada orang yang memerhatikan dia keluar dari mobil Dewa sebelum peledakan. Tapi, Indra tetap merasa bahwa dia terus diikuti orang.

Indra turun pesawat dengan tergesa. Jadwal keberangkatan pesawat yang sering diubah seenak-enaknya oleh maskapai membuatnya dongkol setengah mati. Sampai pintu keluar, Indra cepat masuk taksi dan melesat pergi. Sudah terlambat satu jam jadwal pertemuan dengan kliennya. Rasanya, Indra ingin sekali berbalik saja. Tapi, grup musik ini bisa marah dan membatalkan kontrak konsernya, kalau dia benar-benar tidak datang. Lebih lagi, Pram akan mengoceh sepanjang hari.

Indra menghentikan taksi dan memandang ke sekeliling. Surabaya tidak berubah secepat Jakarta, tapi nyaman untuk pebisnis-pebisnis entertainment seperti perusahaannya. Tingkat kolusinya jauh lebih rendah, bahkan dibanding beberapa kota besar lain.

“Delta Music?” Indra mengeluarkan tanda pengenalnya pada petugas security di lobi gedung mewah ini.

“Lantai dua belas, kiri.” Satpam itu mengangguk simpatik.

Hanya perlu setengah jam untuk membuat direktur itu setuju dengan angka kontraknya. Indra merasa lift ini lambat sekali, masih ada janji dengan gedung pertunjukan dan pihak berwajib untuk permohonan izin. Semua sudah lewat waktu dari yang sudah dijanjikan.

“Taksi!” Indra melambaikan tangannya di lobi.

Sebuah taki perlahan mendekat. Indra cepat membuka pintu taksi dan duduk dengan terburu-buru. Barisan anak remaja yang lewat di depannya benar-benar membuatnya lebih terlambat lagi.

Tiba-tiba Indra melihat seseorang yang seperti pernah dilihatnya, melirik padanya dari luar. Pria itu melihatnya dan seperti tersenyum padanya, lalu menghilang dalam kerumunan remaja yang terburu masuk ke bus di halaman gedung.

Sedetik kemudian, taksi di depannya meledak, terpental keluar lobi....


Indra duduk lemas di dalam kamar hotelnya. Mereka memburuku. Tapi, siapa? Indra membiarkan saja kepalanya berdenyut hebat. Dewa sudah mati karenanya. Sekarang seorang lagi tanpa sengaja menggantikan dirinya mati.
Telepon di meja kecil berkedip. Indra menekan tombol speaker.

“Ya?”

“Maaf, Bu, telepon dari Bu Saskia? Apakah Ibu mau terima?”

Saskia? Indra mengernyitkan keningnya. Indra menggeretakkan giginya, dan tangannya menjadi sangat gemetar.

“Tolong bilang, saya belum kembali dari luar. Terima kasih.”

Bagaimana Saskia tahu aku menginap di hotel ini?

Indra cepat menengok ke pintu yang berbunyi. Indra tak menjawab, tidak membukanya. Perasaannya berkecamuk hebat, ada apa sebenarnya? Di mana Haris yang akan melindunginya? Di mana Leo?

Indra terkejut melihat laptopnya berkedip-kedip.

Indra membukanya cepat, tidak ada alamat pengirim. ‘Ada tiket pulang di lobi hotel. Segera tinggalkan Surabaya. Hrs.’ Haris?

Indra cepat mengemasi barang-barangnya dan turun tergesa ke lobi. Dia membayar dengan tunai dan membuka pintu taksi. Sebelum taksi bergerak, Indra menangkap sosok Haris di belakang petugas security di balik kaca lobi, tersenyum, sambil mengangguk padanya.

Indra terus memutar otak. Siapa sebenarnya Haris? Tapi, bagaimanapun, dia satu-satunya orang yang Indra percaya saat ini. Leo pasti tidak akan mencelakakan dirinya. Dia tahu dan Leo tahu, Indra mencintai Leo lebih dari siapa pun. Leo juga mencintai Indra jauh lebih besar lagi....

Indra mendapati apartemennya bersih sekali. Dia membuka kulkas dan isinya penuh dengan buah-buahan. Indra me-ngambil sebuah jeruk, menimbangnya dan meletakkannya kembali. Bagaimana kalau ada racunnya?

Tiba-tiba dia merasa lapar sekali. Indra mengangkat telepon untuk memesan makanan, tapi diurungkannya. Indra keluar apartemen dan menuju kantin di lantai atas apartemennya. Hari itu kantin cukup ramai oleh orang yang menikmati makan malam. Indra mengelilingi seluruh ruangan, mengintip menu di balik lemari kaca, memesan, lalu duduk di sebuah meja yang sudah terisi oleh anak muda.

“Kelihatannya enak sekali,” kata Indra, sambil tersenyum.

“Ya. Mamaku tidak masak. Jadi....”

“Kau lapar sekali, ya? Makanmu terburu-buru sekali.”

“Ya, Kak, saya memang lapar sekali.” Pemuda kecil itu tertawa. “Kakak mau makan juga?”

“Itu pesananku datang.”

Indra menerima piring burger spesial dengan kentang goreng dan irisan keju, yang menimbulkan aroma menggoda. Pemuda itu memandang burger-nya, sambil menelan ludah.

“Kau mau?” Indra tersenyum.

“Kelihatannya enak. Tapi, Mama menyuruhku makan nasi goreng.”

“Di sini tidak ada mamamu, ‘kan?” Indra tersenyum sambil berbisik. “Kakak lupa sedang diet keju. Bagaimana kalau kita tukar ma-kanannya?”

“Nasi gorengku kan tinggal separuh, Kak?”

“Tidak apa-apa. Aku minta kentangnya sedikit saja.”

Indra menukar piringnya. Mengangsurkan gelas soft drink-nya dan meneguk teh manis anak itu.

Anak itu melahap burger dengan semangat, Indra melihatnya de-ngan perasaan tak keruan. Mungkin, aku terlalu paranoid dengan racun.

“Enak sekali. Terima kasih. Kakak tidak makan?”

Indra menyendok nasi goreng sisa anak tadi sambil berpikir, hanya dengan begini aku bisa terhindar dari mati konyol. Tapi, mungkin akan mati karena kuman dari orang yang memberikan sisa makanannya padaku.

Indra masuk kantor pagi sekali. Dia meletakkan semua pekerjaan yang sudah diselesaikannya di meja Saskia. Kalau tidak sa-lah, dia pulang siang ini. Indra masuk kembali ke ruangan kantor-nya dan berhenti sejenak di depan ruangan Dewa yang sudah terisi orang lain.

Ia menarik napas panjang dan membuka pintu ruangannya. Dia berusaha bekerja setenang mungkin. Kantor ini sangat ketat dalam menjaga keamanan. Hampir di setiap pintu masuk, ada petugas keamanan. Pram, pemilik perusahaan ini, sangat menjaga privasinya.

Tiba-tiba Indra merasa sepi sekali. “Semua orang yang dekat denganku celaka,” pikirnya sedih. Indra ingin sekali menangis. Tenggorokannya terasa makin sakit, ketika air matanya tidak mau keluar.

“Selamat pagi Bu Indra. Ini surat untuk Ibu dan....” Susi, sekretaris direksi, masuk dengan sopan.

“Terima kasih, Sus.” Indra menerima suratnya. “Kau makan apa?”

“Roti bakar, nih. ” Susi mengangkat roti bakarnya yang tinggal separuh.

“Untuk aku saja, ya. Aku lapar sekali.” Indra menyambar roti bakar dengan cepat.

“Ya, ampun..., biar saya minta Mas Juri membuatkan lagi untuk Ibu.”

“Tidak usah, ini sudah cukup.”

Indra menelan roti dengan cepat. “Terima kasih, ya.”

“Sama-sama.”

“Sus!” Indra menghentikan langkah Susi. “Apa bu Saskia sudah datang?”

“Ibu belum tahu beritanya?” Susi memandang aneh.

“Berita apa?” Indra menatap bingung.

“Bu Saskia kecelakaan di Malaysia kemarin pagi. Sore ini mau dibawa ke Jakarta untuk dirawat di sini saja. Itu pun kalau keadaannya sudah stabil.”

“Astaga.” Indra duduk dengan  lemas.

Jadi siapa yang meneleponku kemarin di hotel?

“Siapa yang ada di sana sekarang?”

“Pak Renouv. Mau saya sambungkan?”

Kenapa Renouv? Bukankah Saskia itu bermusuhan denganya?

“Tidak usah, Sus, nanti saja saya telepon sendiri.”

Indra membiarkan Susi keluar dari ruangannya. Hatinya makin tidak keruan. Kalau saja ada satu orang yang bisa dihubungkan dengan semua kejadian ini.

Tadinya Indra yakin sekali bahwa Saskia terlibat dengan semua kejadian ini. Sejak awal, Saskia, teman kuliahnya, yang menawarkan pindah kerja ke kantornya. askia membuatnya percaya untuk menceritakan kenapa Indra tak mempunyai pacar selama be-kerja bersamanya. Dan, Saskia datang membawa banyak berita tentang kesuksesan Leo setelah Leo menikah. Seluruh kehidupan Leo yang seperti selebriti selalu diantarkan Saskia untuk Indra setiap hari.

Hanya Saskia yang tahu bahwa dia akan makan siang dengan Dewa. Hanya, Indra tidak memberi tahu di mana dia menginap. Tetapi, Saskia tahu betul jam berapa dia bertemu para klien, kare-na Saskia memintanya untuk terus melapor, setiap kali pertemuan de­ngan klien usai. Hanya Saskia yang tahu siapa dirinya di mata Leo.

Bagaimana mungkin Saskia juga menjadi korban? Semua orang yang terhubung dengannya celaka....

Indra panik. Di mana Leo? Indra melihat ponselnya berkedip-kedip, lalu membuka flip-nya. ‘Saya tunggu di minimarket basement, jam sebelas tepat. Hrs.’

Astaga... itu enam menit lagi. Indra mengemasi barangnya dan keluar ruangan dengan tergesa. Suasana kantor, entah mengapa, dirasa sangat mencekam. Mungkin, karena peristiwa Saskia yang masih belum jelas keadaannya. Atau, memang setiap hari sepi se­perti ini. Atau, perasaannya saja.

“Sus, bilang pada bosmu, aku ke studio.”

“Kalau begitu, bisa tolong titip berkas ini untuk Sandra, manajer studio, Bu. Saya harus jaga markas, karena semua orang ‘terbang’.”

“Okay.”

Indra turun cepat dan menuju parkir bawah. Satu lantai ke bawah lagi akan sampai di minimarket.

“Naik ke mobil, cepat!” Haris meneleponnya.

Sebuah mobil dengan kaca cukup gelap menghampirinya perlahan. Indra masuk, duduk dengan gemetar. Haris duduk di sam­pingnya dengan wajah yang terlihat tegang.

“Di mana Leo?” itu pertanyaan pertama yang muncul di kepala Indra.

“Pak Leo aman.” Haris menjawab dengan tenang. “Maaf, keadaan tidak terkendali.”

“Ada apa sebenarnya?” Indra menyandar dengan lesu. “Ceritakan, tolong.”

“Mereka memancing Pak Leo untuk keluar. Karena Bu Anne dan anaknya di luar negeri, mereka memancingnya dengan berusaha mencelakai Bu Indra.”

“Siapa mereka?”

“Itu yang sedang kami selidiki.”

“Kami siapa?”

“Saya dan kru.”

“Kamu dan kru apa?” Indra ingin sekali berteriak.

“Anggap saja kami satuan yang bertugas menyelidiki hal-hal yang mencurigakan. Pak Leo tidak membunuh siapa pun. Orang-orang ini sangat rapi. Bahkan, kami juga tidak tahu siapa yang membunuh orang yang mengeroyok Pak Leo. Motifnya belum jelas.”

“Apa hubungannya dengan saya?”

“Mereka tahu segalanya. Mereka tahu Pak Leo sangat menya­yangi Ibu, sekalipun Ibu tidak pernah bertemu Pak Leo, setelah Pak Leo menikah. Menurut dugaan kami, mungkin ada orang terdekat Pak Leo yang terlibat.”

“Kapan mereka berhenti mengejar saya?” Indra menelan ludahnya. Setiap hari dia harus berjuang sendiri agar masih bisa bernapas.

“Kami akan terus melindungi Ibu,” Haris menjawab dengan tidak meyakinkan.

“Kalau bukan karena ada orang lain yang menyerobot taksiku.”

“Kami sudah mengaturnya, Bu.” Haris menahan napas. “Yang menyerobot taksi Ibu adalah orang kami. Di detik terakhir, kami tahu ada bom di dalam taksi dan tak cukup waktu untuk meng­hentikannya, sehingga harus ada orang yang menggantikan Ibu.”

“Ya, ampun....” Indra merasa tulang-tulangnya remuk. “Kita mau ke mana?”

“Mencarikan tempat aman untuk Ibu. Malam ini akan ada lagi percobaan pembunuhan pada Bu Indra.”

“Astaga....”

“Sebenarnya kami ingin membuat jebakan.” Haris meminggirkan mobilnya. “Kalau Ibu setuju.”

“Aku? Maksudmu aku jadi umpan? Gila apa?!”

Beruntung aku masih hidup.

“Tidak apa-apa, kalau Ibu tidak mau. Kami sangat mengerti ba-gaimana perasaan Ibu.” Haris mulai menjalankan mobilnya. “Kami akan tetap mencari cara untuk....”

“Apakah ini akan menyelamatkan Leo?”

“Tidak, hanya akan menghentikan korban-korban lain yang ada di dekat Ibu.”

“Bagaimana rencana kalian?”

“Kami tidak mau memaksa Ibu. Kepanikan adalah penyebab pertama kematian.”

“Aku bersedia,” Indra menyerah. “Setelah kamu memberi ma-kanan padaku. Aku lapar sekali.”

Indra meneguk air mineral dari botol yang diangsurkan Haris. Haris hanya mengangguk dan membelokkan mobil ke arah sebuah gedung salon dan bridal, langsung menuju parkir basement.

“Kita turun.” Haris membuka pintu dan dengan cepat Indra mengikutinya. “Tinggalkan ponselmu di mobil.”

Indra menurut  dan melempar ponselnya di jok belakang.

Mereka naik ke tangga dan membuka pintu belakang. Haris menekankan ibu jarinya dan menggesekkan kartunya. Pintu itu terbuka dan seorang berpakaian seperti tentara menghormat ala militer. Haris melakukan hal yang sama di pintu kedua dan ketiga, lalu mereka masuk ke sebuah ruangan kantor yang sangat luas. Penuh dengan komputer dan layar lebar serta banyak peralatan lain yang Indra tidak tahu namanya. Seperti dalam film-film detektif dan semacamnya.

“Guys, ini Ibu Indra.”

Haris membuat seluruh orang di ruangan mengangguk pada Indra, sambil memandang kasihan. Lalu, Haris membawa Indra masuk sebuah pintu lain. Indra berhenti sebentar, lalu berkata, “Panggil Indra saja.”

“Kau bisa istirahat dulu. Kami akan mengantar makanan sebentar lagi. Itu pintu ke kamar tidur yang akan kau pakai tidur malam ini.”

“Kalau masih hidup,” Indra menggumam, lalu duduk di sofa yang nyaman. Ia merasa sangat letih dan lapar. Sudah dua hari ini ia hanya makan sisa nasi goreng dan sepotong kecil roti bakar, meminum kopi sisa Susi, dan setengah air putih bekas tamu kantornya.

“Nah, setelah kau makan, kita akan segera membicarakan rencana nanti malam.”

Indra mendengarkan saja semua rencana Haris dan temannya. Toh, aku memang sudah mati.... Sejak Leo menikahi Anne, setengah jiwaku sudah mati.

Indra mengendarai mobilnya dan keluar apartemen, setelah diantar pulang oleh teman Haris. Dia melihat spion beberapa kali untuk memastikan ada mobil yang mengikutinya secara bergantian dangan tanda khusus.

Ia memasuki parkiran mal dengan waswas, lalu mencari tempat parkir yang sudah ditentukan. Indra keluar mal dan mulai berbelanja. Uangku tidak akan habis kalau hanya untuk membuat mobilku penuh belanjaan....

Pukul dua puluh satu lebih empat puluh lima menit, Indra mencari tempat parkir yang diinformasikan kepadanya oleh Haris. Mobil Indra sudah ditukar dengan mobil lain yang sama dengan mobilnya. Indra membuka bagasinya dan memasukkan belanjaan.

Di seberangnya tampak seorang wanita cantik memasuki mobil yang mirip miliknya sambil tersenyum manis. Indra merasa sedang membunuhnya.

Tidak akan ada korban, semua sudah disiapkan secara baik....

Indra masuk mobil dan merasa aneh. Ini bukan mobilnya. Semua pintu terkunci otomatis dan tidak bisa dibuka. Indra panik. Panik adalah penyebab pertama kematian. Sebuah benda berkelip-kelip di bawah setir membuatnya berteriak keras, sambil menggedor kaca. Indra mengambil sepatunya dan sekuat tenaga memecahkan kaca, tanpa hasil. Kelap-kelip itu makin cepat dan... blaaar!

Yang dia ingat hanya sosok Haris yang berteriak di depan mobil. Semua cepat sekali terjadi dan Indra merasa melayang, lalu gelap dan sepi sekali....

“Selamat pagi, Ndra,”

Indra mendengar suara samar-samar. Semua terlihat buram. Indra berusaha menggerakkan jarinya, sakit luar biasa. Haris terlihat samar-samar tersenyum di antara perban-perban di wajahnya.

Indra memejamkan matanya, sambil terus berusaha untuk mengingat kejadian terakhir. Semua masih gelap samar-samar. Barangkali aku sudah mati....

“Kau lihat aku, Ndra?” suara Haris terdengar jauh sekali.

“Sedikit gelap,” Indra mengerjapkan matanya. “Aku sudah mati?”

“Kau masih hidup.” Haris mendekatkan wajahnya, dekat sekali. “Kau koma selama dua hari.”

“Di mana aku?”

“Markas.” Haris meneliti telinga Indra, menyentuhkan jarinya di belakang daun telinga. ”Sakit?”

“Tidak. Tapi, semua badanku sakit.”

“Syukurlah tidak ada cedera kepala. Beberapa tulangmu retak karena terbentur tembok. Kita terhindar dari ledakan. Aku minta maaf, semua jadi kacau. Ada kebocoran rencana, semua jadi tidak terkendali.”

“Di mana Leo?”

Haris menghela napas panjang. “Kami mau minta maaf. Pak Leo....”

“Haris....” Indra merasakan sakit yang luar biasa, saat menggerakkan tangannya untuk menekan tangan Haris. Karena, lama sekali Haris menggantung kalimatnya.

“Kami minta maaf. Pak Leo memilih untuk....”

“Dia menyusul Anne?” Indra melayangkan pandangan ke arah jendela. Hamparan laut lepas membuat dirinya merasa melayang. “Haris?”

“Kami kecolongan. Pak Leo menjatuhkan dirinya dari atas gedung ini.”

Indra merasa semua menjadi sepi. Sangat hening....

“Kau janji padaku untuk melindunginya,” Indra berbisik serak. Dadanya sesak sekali, dan dia hanya ingin menangis.

“Maafkan saya.”

Haris menyentuhkan tangannya pada tangan Indra yang penuh perban. Indra merasakan pipinya perih sekali. Ada air mata yang terus mengaliri lukanya. Tapi, luka di hatinya jauh lebih sakit. Leo sudah meninggalkannya.

“Tolong, tinggalkan saya....”

Indra memalingkan wajahnya ke arah jendela. Hamparan laut lepas sekarang membuatnya sangat ketakutan. Dia melihat dirinya sendiri berkejaran dengan Leo di pantai. Leo tertawa terbahak-bahak, saat Indra jatuh dan basah kuyup, lalu Leo menariknya untuk berenang ke tengah, ke tengah, dan ke tengah lagi. Dingin... dingin sekali....

Indra seperti mendengar jeritannya sendiri. Di mana aku? Siapa aku? Mengapa aku? Indra merasa sudah ikut mati.

“Tanjaya sengaja menciptakan gedung dengan kualitas rendah untuk menurunkan Leo dan menggantikannya dengan Frans, me-nantunya yang lain. Tindakan itu diambil, saat Tanjaya tahu bahwa Leo dan Anne sepakat untuk bercerai. Sudah lama Leo ingin menceraikan Anne dan mencarimu untuk dinikahi. Leo dianggap menantu durhaka tentu saja, orang yang tidak tahu berterima kasih, dan terus menyakiti hati anak kesayangannya, Anne. Semua kejadian direncanakan oleh Tanjaya sendiri. Sekarang semua sudah selesai, Tanjaya sudah ditangkap kembali atas banyak tuduhan pembunuhan.”

Indra terkulai lemah.

Akulah penyebab semua ini. Aku membuat banyak orang terbunuh, dan aku yang menciptakan seorang Tanjaya menjadi monster pembunuh.... Seharusnya aku meninggalkan Leo, ketika Leo menikah. Seharusnya aku membuka hatiku untuk Dewa. Seharusnya aku tidak perlu menjadi katak dalam tempurung cintaku.

Semua sudah selesai, kisah ini sudah selesai, karena Leo sudah menyelesaikannya dengan caranya sendiri. Leo mati untuk membuatku bernyawa. Karena dia tahu, Tanjaya tidak akan mau melepaskanku....

Indra duduk di mobil dengan kaca gelap, melihat dirinya ikut terkubur dalam peti mati Leo. Tidak ada Anne dan anaknya di sana, hanya beberapa kerabat Leo dan para petugas kepolisian. Haris menyentuh pundak sopir dan mobil berjalan ke luar pemakaman menuju bandara.

“Paspormu dan identitas baru. Kau punya rumah, pekerjaan, dan saudara baru di sana.”

Haris memeluknya dan mengantar sampai pintu keberangkatan.

“Terima kasih.”

Indra memeluk Haris erat dan menangis. Alangkah leganya bisa menangis....

“Jaga dirimu, Lynn.”

Haris menyapanya dengan nama barunya.

Indra tersenyum kecil. “Aku suka nama Lynn.”

“Aku memikirkan nama barumu selama seminggu. Syukurlah kau suka. Pesawatmu akan berangkat.” Haris memeluk pundaknya.

“Bagaimana aku menghubungimu?”

“Aku yang akan menghubungimu. Leo beruntung mencintai orang sepertimu.”

Indra tersenyum kecil, memeluk Haris, lalu melangkah masuk pesawat, duduk di samping jendela dan menge­ratkan sabuk pengaman. Akan lebih dari sepuluh jam perjalanan menuju negara barunya.

Akhirnya aku punya waktu panjang untuk tidur.

Hari baru telah menungguku....

No comments: