Showing posts with label Story. Show all posts
Showing posts with label Story. Show all posts

12.22.2010

Tuhan...Beri aku waktu 1 jam saja

Los Felidas adalah nama sebuah jalan di ibu kota
sebuah negara di Amerika Selatan, yang terletak di kawasan
terkumuh diseluruh kota ..
Ada sebuah kisah yang menyebabkan jalan itu begitu
dikenang orang, dan itu dimulai dari kisah seorang pengemis
wanita yang juga ibu seorang gadis kecil.

Tidak seorangpun yang tahu nama aslinya, tapi
beberapa orang tahu sedikit masa lalunya, yaitu bahwa ia
bukan penduduk asli disitu, melainkan dibawa oleh suaminya
dari kampung halamannya. Seperti kebanyakan kota besar di dunia ini,
kehidupan masyarakat kota terlalu berat untuk mereka, dan
belum setahun mereka di kota itu, mereka kehabisan seluruh
uangnya, dan pada suatu pagi mereka sadar bahwa
mereka tidak tahu dimana mereka tidur malam nanti dan tidak
sepeserpun uang ada dikantong.

Padahal mereka sedang menggendong bayi mereka yang
berumur 1 tahun. Dalam keadaan panik dan putus asa, mereka
berjalan dari satu jalan ke jalan lainnya, dan akhirnya tiba
di sebuah jalan sepi dimana puing-puing sebuah toko
seperti memberi mereka sedikit tempat untuk berteduh.

Saat itu angin Desember bertiup kencang, membawa
titik-titik air yang dingin. Ketika mereka beristirahat
dibawah atap toko itu, sang suami berkata: "Saya
harus meninggalkan kalian sekarang. Saya harus mendapatkan
pekerjaan, apapun, kalau tidak malam nanti kita akan
tidur disini." Setelah mencium bayinya ia pergi. Dan ia tidak
pernah kembali.

Tak seorangpun yang tahu pasti kemana pria itu
pergi, tapi beberapa orang seperti melihatnya menumpang kapal
yang menuju ke Afrika.
Selama beberapa hari berikutnya sang ibu yang malang
terus menunggu kedatangan suami nya, dan bila malam tidur
di emperan toko itu.

Pada hari ketiga, ketika mereka sudah kehabisan
susu,orang-orang yang lewat mulai memberi mereka
uang kecil, dan jadilah mereka pengemis di sana selama 6
bulan berikutnya.
Pada suatu hari, tergerak oleh semangat untuk
mendapatkan kehidupan yang lebih baik, ibu itu bangkit dan
memutuskan untuk bekerja.

Masalahnya adalah di mana ia harus menitipkan
anaknya, yang kini sudah hampir 2 tahun, dan tampak amat cantik
jelita. Tampaknya tidak ada jalan lain kecuali meninggalkan
anak itu disitu dan berharap agar nasib tidak memperburuk
keadaan mereka.
Suatu pagi ia berpesan pada anak gadisnya, agar ia
tidak kemana-mana, tidak ikut siapapun yang mengajaknya
pergi atau menawarkan gula-gula.

Pendek kata, gadis kecil itu tidak boleh berhubungan
dengan siapapun selama ibunya tidak ditempat.

"Dalam beberapa hari mama akan mendapatkan cukup
uang untuk menyewa kamar kecil yang berpintu, dan kita
tidak lagi tidur dengan angin di rambut kita".
Gadis itu mematuhi pesan ibunya dengan penuh
kesungguhan.
Maka sang ibu mengatur kotak kardus dimana mereka
tinggal selama 7 bulan agar tampak kosong, dan membaringkan
anak nya dengan hati-hati di dalamnya.
Di sebelahnya ia meletakkan sepotong roti.
Kemudian, dengan mata basah ibu itu menuju kepabrik
sepatu, di mana ia bekerja sebagai pemotong kulit.
Begitu lah kehidupan mereka selama beberapa hari,
hingga di kantong sang Ibu kini terdapat cukup uang untuk
menyewa sebuah kamar berpintu di daerah kumuh.
Dengan suka cita ia menuju ke penginapan orang-orang
miskin itu, dan membayar uang muka sewa kamarnya. Tapi
siang itu juga sepasang suami istri pengemis yang moralnya
amat rendah menculik gadis cilik itu dengan paksa, dan
membawanya sejauh 300 kilometer ke pusat kota .

Di situ mereka mendandani gadis cilik itu dengan
baju baru, membedaki wajahnya, menyisir rambutnya dan
membawanya ke sebuah rumah mewah
dipusat kota. Di situ gadis cilik itu dijual. Pembelinya adalah
pasangan suami istri dokter yang kaya, yang tidak pernah bisa
punya anak sendiri walaupun mereka telah menikah selama 18
tahun. Mereka memberi nama anak gadis itu Serrafona, dan
mereka memanjakannya dengan amat sangat. Di tengah-tengah
kemewahan istana itulah gadis kecil itu tumbuh
dewasa. Ia belajar kebiasaan-kebiasaan orang terpelajar seperti
merangkai bunga, menulis puisi dan bermain piano.Ia
bergabung dengan kalangan-kalangan kelas atas, dan
mengendarai Mercedes Benz kemanapun ia pergi.

Satu hal yang baru terjadi menyusul hal lainnya,dan
bumi terus berputar tanpa kenal istirahat.

Pada umurnya yang ke-24, Serrafona dikenal sebagai
anak gadis Gubernur yang amat jelita, yang pandai bermain
piano, yang aktif di gereja, dan yang sedang menyelesaikan
gelar dokternya. Ia adalah figur gadis yang menjadi impian
tiap pemuda, tapi cintanya direbut oleh seorang dokter
muda yang welas asih, yang bernama Geraldo.

Setahun setelah perkimpoian mereka, ayahnya wafat,
dan Serrafona beserta suaminya mewarisi beberapa
perusahaan dan sebuah real-estate sebesar 14 hektar yang diisi
dengan taman bunga dan istana yang paling megah di kota itu.

Menjelang hari ulang tahunnya yang ke-27, sesuatu
terjadi yang merubah kehidupan wanita itu.

Pagi itu Serrafona sedang membersihkan kamar
mendiang ayahnya yang sudah tidak pernah dipakai lagi, dan di
laci meja kerja ayah nya ia melihat selembar foto seorang anak
bayi yang digendong sepasang suami istri.
Selimut yang dipakai untuk menggendong bayi itu
lusuh, dan bayi itu sendiri tampak tidak terurus, karena
walaupun wajahnya dilapisi bedak tetapi rambutnya tetap kusam.
Sesuatu ditelinga kiri bayi itu membuat jantungnya berdegup
kencang. Ia mengambil kaca pembesar dan mengkonsentrasikan
pandangannya pada telinga kiri itu. Kemudian ia
membuka lemarinya sendiri, dan mengeluarkan sebuah kotak
kayu mahoni. Di dalam kotak yang berukiran indah itu dia
menyimpan seluruh barang-barang pribadinya, dari kalung-kalung
berlian hingga surat-surat pribadi.
Tapi diantara benda-benda mewah itu terdapat sesuatu
terbungkus kapas kecil, sebentuk anting-anting
melingkar yang amat sederhana, ringan dan bukan emas murni.

Ibunya almarhum memberinya benda itu sambil berpesan untuk
tidak kehilangan benda itu. Ia sempat bertanya, kalau itu
anting-anting, di mana satunya. Ibunya menjawab
bahwa hanya itu yang ia punya. Serrafona menaruh anting-anting
itu didekat foto.

Sekali lagi ia mengerahkan seluruh kemampuan
melihatnya dan
perlahan-lahan air matanya berlinang . Kini tak ada
keragu-raguan lagi bahwa bayi itu adalah dirinya sendiri.
Tapi kedua pria wanita yang menggendongnya, yang
tersenyum dibuat-buat, belum penah dilihatnya sama sekali.
Foto itu seolah membuka pintu lebar-lebar pada
ruangan yang selama ini mengungkungi pertanyaan-pertanya annya,
misalnya: kenapa bentuk wajahnya berbeda dengan wajah kedua
orang tuanya, kenapa ia tidak menuruni golongan darah ayahnya.

Saat itulah, sepotong ingatan yang sudah seperempat
abad terpendam, berkilat di benaknya, bayangan seorang
wanita membelai kepalanya dan mendekapnya di dada. Di
ruangan itu mendadak Serrafona merasakan betapa dinginnya sekelilingnya
tetapi ia juga merasa betapa hangatnya
kasih sayang dan rasa aman yang dipancarkan dari dada
wanita itu. Ia seolah merasakan dan mendengar lewat dekapan itu
bahwa daripada berpisah lebih baik mereka mati bersama.

Mata nya basah ketika ia keluar dari kamar dan
menghampiri suaminya yang sedang membaca koran: "Geraldo,
saya adalah anak seorang pengemis, dan mungkinkah ibu
saya masih ada di jalan sekarang setelah 25 tahun?"

Itu adalah awal dari kegiatan baru mereka mencari
masa lalu Serrafonna. Foto hitam-putih yang kabur itu
diperbanyak puluhan ribu lembar dan disebar ke seluruh jaringan
kepolisian diseluruh negeri.

Sebagai anak satu-satunya dari bekas pejabat yang
cukup berpengaruh di kota itu, Serrafonna mendapatkan
dukungan dari seluruh kantor kearsipan, kantor surat kabar
dan kantor catatan sipil. Ia membentuk yayasan -yayasan untuk mendapatkan data
dari seluruh panti-panti orang jompo dan badan-badan sosial di
seluruh negeri dan mencari data tentang seorang
wanita.

Bulan demi bulan lewat, tapi tak ada perkembangan
apapun dari usahanya. Mencari seorang wanita yang mengemis
25 tahun yang lalu di negeri dengan populasi 90 juta bukan
sesuatu yang mudah. Tapi Serrafona tidak punya pikiran untuk menyerah.
Dibantu suaminya yang begitu penuh pengertian, mereka terus
menerus meningkatkan pencarian mereka. Kini, tiap kali
bermobil, mereka sengaja memilih daerah-daerah kumuh,
sekedar untuk lebih akrab dengan nasib baik.

Terkadang ia berharap agar ibunya sudah almarhum
sehingga ia tidak terlalu menanggung dosa mengabaikannya
selama seperempat abad.
Tetapi ia tahu, entah bagaimana, bahwa ibunya masih
ada, dan sedang menantinya sekarang. Ia memberitahu
suaminya keyakinan itu berkali-kali, dan suaminya
mengangguk-angguk penuh pengertian.

Pagi, siang dan sore ia berdoa: "Tuhan, ijinkan
saya untuk satu permintaan terbesar dalam hidup saya:
temukan saya dengan ibu saya".

Tuhan mendengarkan doa itu. Suatu sore mereka
menerima kabar bahwa ada seorang wanita yang mungkin bisa membantu
mereka menemukan ibunya. Tanpa membuang waktu, mereka
terbang ke tempat itu, sebuah rumah kumuh di daerah lampu
merah, 600 km dari kota mereka.

Sekali melihat, mereka tahu bahwa wanita yang
separoh buta itu, yang kini terbaring sekarat, adalah wanita di
dalam foto. Dengan suara putus-putus, wanita itu mengakui bahwa
ia memang pernah mencuri seorang gadis kecil ditepi jalan,
sekitar 25 tahun yang lalu.

Tidak banyak yang diingatnya, tapi diluar dugaan ia
masih ingat kota dan bahkan potongan jalan dimana ia
mengincar gadis kecil itu dan kemudian menculiknya. Serrafona
memberi anak perempuan yang menjaga wanita itu sejumlah
uang, dan malam itu juga mereka mengunjungi kota dimana
Serrafonna diculik.

Mereka tinggal di sebuah hotel mewah dan mengerahkan
orang-orang mereka untuk mencari nama jalan itu.
Semalaman Serrafona tidak bisa tidur.
Untuk kesekian kalinya ia bertanya-tanya kenapa ia
begitu yakin bahwa ibunya masih hidup sekarang, dan sedang
menunggunya, dan ia tetap tidak tahu jawabannya.

Dua hari lewat tanpa kabar. Pada hari ketiga, pukul 18:00
senja, mereka menerima telepon dari salah seorang staff
mereka. "Tuhan maha kasih, Nyonya, kalau memang
Tuhan mengijinkan, kami mungkin telah menemukan ibu
Nyonya. Hanya cepat sedikit, waktunya mungkin tidak banyak
lagi." Mobil mereka memasuki sebuah jalanan yang sepi,
dipinggiran kota yang kumuh dan banyak angin. Rumah-rumah di
sepanjang jalan itu tua-tua dan kusam. Satu, dua anak kecil
tanpa baju bermain-main ditepi jalan.

Dari jalanan pertama, mobil berbelok lagi kejalanan
yang lebih kecil, kemudian masih belok lagi kejalanan
berikut nya yang lebih kecil lagi.
Semakin lama mereka masuk dalam lingkungan yang
semakin menunjukkan kemiskinan. Tubuh Serrrafona gemetar, ia
seolah bisa mendengar panggilan itu. "Lekas, Serrafonna,
mama menunggumu, sayang".

Ia mulai berdoa "Tuhan, beri saya setahun untuk
melayani mama. Saya akan melakukan apa saja".

Ketika mobil berbelok memasuki jalan yang lebih
kecil, dan ia bisa membaui kemiskinan yang amat sangat, ia
berdoa: "Tuhan beri saya sebulan saja".

Mobil belok lagi kejalanan yang lebih kecil, dan
angin yang penuh derita bertiup, berebut masuk melewati celah
jendela mobil yang terbuka. Ia mendengar lagi panggilan
mamanya , dan ia mulai menangis: "Tuhan, kalau sebulan terlalu banyak,
cukup beri kami seminggu untuk saling memanjakan ".

Ketika mereka masuk belokan terakhir, tubuhnya menggigil
begitu hebat sehingga Geraldo memeluknya erat-erat.
Jalan itu bernama Los Felidas.
Panjangnya sekitar 180 meter dan hanya kekumuhan
yang tampak dari sisi ke sisi, dari ujung keujung. Di
tengah-tengah jalan itu, di depan puing-puing sebuah
toko, tampak onggokan sampah dan kantong-kantong plastik,
dan ditengah-tengahnya, terbaring seorang wanita tua
dengan pakaian sehitam jelaga, tidak bergerak-gerak.

Mobil mereka berhenti diantara 4 mobil mewah lainnya
dan 3 mobil polisi. Di belakang mereka sebuah
ambulansberhenti, diikuti empat mobil rumah sakit lain.
Dari kanan kiri muncul pengemis- pengemis yang
segera memenuhi tempat itu.

"Belum bergerak dari tadi." lapor salah
seorang. Pandangan Serrafona gelap tapi ia menguatkan dirinya
untuk meraih kesadarannya dan turun.
Suaminya dengan sigap sudah meloncat keluar, memburu
ibu mertuanya. "Serrafona, kemari cepat! Ibumu masih hidup, tapi
kau harus menguatkan hatimu ."

Serrafona memandang tembok dihadapann ya, dan ingat
saat ia menyandarkan kepalanya ke situ. Ia memandang lantai
di kaki nya dan ingat ketika ia belajar berjalan.
Ia membaui bau jalanan yang busuk, tapi mengingatkan
nya pada masa kecilnya. Air matanya mengalir keluar
ketika ia melihat suaminya menyuntikkan sesuatu ke tangan
wanita yang terbaring itu dan memberinya isyarat untuk mendekat.

"Tuhan, ia meminta dengan seluruh jiwa
raganya,beri kami sehari...... Tuhan, biarlah saya membiarkan mama
mendekap saya dan memberitahunya bahwa selama 25
tahun ini hidup saya amat bahagia....Jadi mama tidak
menyia-nyia kan saya".

Ia berlutut dan meraih kepala wanita itu kedadanya.
Wanita tua itu perlahan membuka matanya dan
memandang keliling, ke arah kerumunan orang-orang berbaju
mewah dan perlente, ke arah mobil-mobil yang mengkilat dan ke
arah wajah penuh air mata yang tampak seperti wajahnya
sendiri ketika ia masih muda.

"Mama.. ...", ia mendengar suara itu, dan ia
tahu bahwa apa yang ditunggunya tiap malam - antara waras
dan tidak - dan tiap hari - antara sadar dan tidak - kini
menjadi kenyataan. Ia tersenyum, dan dengan seluruh kekuatann ya
menarik lagi jiwanya yang akan lepas.

Perlahan ia membuka genggaman tangann ya, tampak
sebentuk anting-anting yang sudah menghitam.
Serrafona mengangguk, dan tanpa perduli
sekelilingnya ia berbaring di atas jalanan itu dan merebahkan
kepalanya di dada mamanya.

"Mama, saya tinggal di istana dan makan enak tiap
hari. Mama jangan pergi dulu. Apapun yang mama mau
bisa kita lakukan bersama-sama.
Mama ingin makan, ingin tidur, ingin bertamasya,
apapun bisa kita bicarakan. Mama jangan pergi dulu...
Mama..."

Ketika telinganya menangkap detak jantung yang
melemah, ia berdoa lagi kepada Tuhan: "Tuhan maha pengasih
dan pemberi, Tuhan..... satu jam saja.... ...satu jam saja....."

Tapi dada yang didengarnya kini sunyi, sesunyi senja
dan puluhan orang yang membisu. Hanya senyum itu, yang
menandakan bahwa penantiannya selama seperempat abad
tidak berakhir sia-sia.

Teman....mungkin saat ini kita sedang beruntung.
Hidup ditengah kemewahan dan kondisi berkecukupan. . Mungkin
kita mendapatkannya dari hasil keringat sendiri tanpa
bantuan orang tua kita. Namun yang perlu kita sadari, bahwa
orang tua kita senantiasa berdoa untuk kita, meski itu
hanya di peraduan

MAU PUNYA TETANGGA MUSUH ATAU TEMAN

Pada zaman Tiongkok Kuno, ada seorang petani mempunyai seorang tetangga yang berprofesi sebagai pemburu dan mempunyai anjing-anjing  yang galak dan kurang terlatih. Anjing-anjing itu sering melompati pagar dan mengejar-ngejar domba-domba petani.
Petani itu meminta tetangganya untuk menjaga anjing-anjingnya, tetapi ia tidak mau peduli.
Suatu hari aning-anjing itu melompati pagar dan  menyerang beberapa kambing sehingga terluka parah.
Petani itu merasa tak sabar, dan memutuskan untuk pergi ke kota untuk berkonsultasi pada seorang hakim.
Hakim itu  mendengarkan cerita petani itu dengan hati-hati dan berkata, "Saya bisa saja menghukum pemburu itu dan memerintahkan dia untuk merantai dan mengurung anjing-anjingnya. Tetapi Anda akan kehilangan seorang teman dan  mendapatkan seorang musuh.
Mana yang kau inginkan, teman atau musuh yang jadi tetanggamu?"
Petani itu menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang teman.
"Baik, saya akan menawari Anda sebuah solusi yang mana Anda harus manjaga domba-domba Anda supaya tetap aman dan ini akan membuat  tetangga Anda tetap sebagai teman."
Mendengar solusi pak hakim, petani itu setuju.
Ketika sampai di rumah, petani itu segera melaksanakan solusi pak hakim.
Dia mengambil tiga domba terbaiknya dan menghadiahkannya kepada tiga anak tetangganya itu, yang mana ia menerima dengan sukacita dan mulai bermain dengan domba-domba tersebut.
Untuk menjaga mainan baru anaknya, si pemburu itu mengkerangkeng anjing pemburunya.
Sejak saat itu anjing-anjing itu tidak pernah menggangu domba-domba pak tani.
Di samping rasa terima kasihnya kepada kedermawanan petani kepada anak-anaknya, pemburu itu sering membagi hasi buruan kepada petani. Sebagai balasannya petani mengirimkan daging domba dan keju buatannya.
Dalam waktu singkat tetangga itu menjadi teman yang baik.
Sebuah ungkapan Tiongkok Kuno mengatakan, "Cara Terbaik untuk  mengalahkan dan mempengaruhi orang adalah dengan kebajikan dan belas kasih."
Sama dengan ungkapan Amerika yang mengatakan, "Seseorang bisa menangkap lebih banyak lalat dengan madu dari pada dengan cuka."

DALAM TERANG CAHAYA KEHENINGAN

Sebuah peradaban yang riuh, demikian sebuah komentar menyimpulkan kehidupan di awal abad 21.
Lebih-lebih ketika menghampar krisis energi dan pangan. Banyak yang sepakat kalau dunia sedang mengalami kepanikan global.
Wakil AS menuduh India menghabiskan cadangan pangan karena jumlah penduduknya yang besar.
Wakil India menuding balik dengan menyebutkan kalau Amerika Serikat dengan seluruh keserakahannya yang membuat krisis pangan dan energi.
Di Indonesia, pangan dan energi ini juga menjadi komoditi politik untuk menjatuhkan lawan.

Ada yang menelaah wajah peradaban ini tidak dengan analisis, namun dengan lelucon.
Suatu hari seorang pemuda kebingungan memilih isteri. Datanglah dia pada seorang sesepuh.
Dan diberitahulah syarat-syarat calon isteri yang baik.
Dari berwajah cantik, puteri orang kaya, bekerja, berkinerja dahsyat di tempat tidur sampai dengan bisa diminta mengepel lantai.
Ternyata, setelah dicari-cari tidak ada wanita ideal seperti itu.
Bila cantik, puteri orang kaya, wanita karir, maka harga yang harus dibayar, suaminya terpaksa mengisi keseharian dengan mengepel lantai, sambil bernyanyi sendu lirik lagu "diriku tak pernah lepas dari penderitaan".

Semakin dipertentangkan, semakin panas.

Peradaban manusia serupa, setiap kelebihan meminta ongkos berupa kekurangan.
Keserakahan hanya mau kelebihan, dan berharap kelebihan tidak berubah-ubah menjadi kekurangan, itulah awal kehidupan yang riuh dan penuh penderitaan.
Dulu ketika dunia dibuat takut oleh potensi perang bintang antara dua negara adi kuasa, tidak ada tanda-tanda ketakutan akan bom teroris.
Sekarang ketika ketakutan perang global berhenti, bahkan memasuki hotel pun harus diperiksa petugas keamanan.

Nasib bangsa ini setali tiga uang.
Ia terlihat berputar dari satu ketidakpuasan menuju ketidakpuasan lain, karena manusianya menolak semua kekurangan.
Di zaman orde baru, sebagian hak-hak politik memang dikekang, tapi di zaman itu harga pangan, papan dan minyak terjangkau.
Di zaman reformasi ini, kebebasan politik berkibar-kibar, siapa pun boleh dikritik, namun ia harus dibayar dengan harga pangan, papan dan minyak yang semakin jauh dari jangkauan.
Persis sama dengan lelucon pemuda yang bingung mencari isteri, setiap kelebihan harus dibayar dengan kekurangan.

Di tengah pengapnya peradaban oleh banyak sekali ketidakpuasan, tidak terhitung jumlah rapat, konferensi, wacana, seminar sampai kuliah tingkat tinggi di perguruan tinggi yang mau mencoba mengurai situasi.
Dan ternyata, semakin diperdebatkan peradaban jadi semakin panas.
Bila ada hasilnya, peradaban akan tambah sejuk.
Namun sebagaimana dirasakan bersama, bumi tambah panas baik secara fisik, psikologis, spiritual.
Jika ditelusuri lebih dalam kehidupan manusia, ia ditandai kelahiran dengan tangisan bayi yang riuh, serta kematian plus tangisan orang yang ditinggalkan yang juga riuh.
Bila di tengah-tengahnya juga riuh dengan perdebatan dan perkelahian, menimbulkan pertanyaan mendalam, kapan manusia punya kesempatan berjumpa keheningan?

Menjadi satu dengan alam

Alam sebagai guru bertutur terang, semuanya berubah, semuanya membawa kelebihan-kekurangan.
Siang berganti malam, malam berganti siang.
Bila gunung tinggi, jurangnya dalam.
Diperdebatkan atau tidak, tetap seperti ini.
Memahami dalam-dalam sifat alami inilah yang membukakan keheningan.

Seorang guru yang punya banyak murid di Barat agak terang dalam hal ini.
Tahapan memasuki pintu keheningan sebenarnya sederhana.
Pertama-tama, belajar dari alam. Kemudian hidup sesuai prinsip-prinsip alami.
Sebagai hasilnya, manusia bisa melihat kebenaran di balik alam.
Dan ujung-ujungnya baru bisa menjadi satu dengan alam.
Sebelum menyatu dengan alam, manusia akan terus berputar dari satu penderitaan ke penderitaan lain.

Ia yang bersatu dengan alam tahu, ada bimbingan, ada kesempurnaan, ada keindahan di sana.
Laut sebagai contoh, ia membawa bimbingan-bimbingan.
Sama dengan hidup manusia, ada gelombang tinggi (baca: kaya, dikagumi), ada gelombang rendah (kehidupan orang biasa).
Namun tanpa memandang tinggi-rendah, gelombang mana pun ikhlas dan rendah hati pada bibir pantai.
Seperti sedang bercerita, ikhlas dan rendah hatilah, ini yang membuat kematian berhenti berwajah menakutkan.

Siapa yang mengisi kesehariannya dengan keikhlasan dan kerendahatian, akan menemukan bahwa alam sebenarnya sebuah perpustakaan agung.
Berlimpah pengetahuan dan kebijaksanaan yang disimpan di sana.
Perhatikan laut lebih dalam lagi.
Di permukaan ia senantiasa bergelombang. Sama dengan hidup manusia.
Di kedalaman yang dalam, tidak ada gerakan apa lagi gelombang.
Hanya hening yang melukis keindahan dan kesempurnaan.

Cermati apa yang ditulis Zenkei Shibayama dalam A Flower does not talk: "silently a flower blooms, in silence it falls away….pure and fresh are the flowers with dew….calmly l read the True Word of no letters".
Bunga mekar tanpa suara, berguguran juga tanpa suara. Tanpa keluhan tanpa perdebatan.
Ada kesucian yang menggetarkan dalam bunga yang berhiaskan embun pagi.
Dalam bimbingan hening, tiba-tiba terbaca makna tanpa kata-kata.
Zenkei Shibayama menyebutnya Scripture of no letters. Tanpa kata-kata, tanpa keriuhan.
Hanya sebuah hati yang berkelimpahan dalam dirinya!

Kembali ke cerita awal tentang peradaban yang riuh, dunia memang sedang dibelit krisis.
Namun ketika kata-kata, perseteruan memperpanas suhu panas peradaban yang sudah panas, mungkin ini saatnya membaca Scripture of no letters.
Ada yang menyebutnya pengetahuan di dalam yang hanya membuka dirinya di puncak keheningan.

Untuk melangkah ke sana, mulailah hidup sesuai hukum alam.
Ia yang mengalir bersama alam, tersenyum pada setiap putaran alam tahu sebenarnya tidak ada hukuman.
Apa yang kerap disebut sebagai bencana, sebenarnya hanya undangan laut untuk menyelam semakin dalam.
Memasuki wilayah-wilayah tanpa gelombang (baca: tanpa perdebatan) namun penuh keheningan.

Sebagaimana ditulis rapi oleh kehidupan para Mahasidha (manusia yang menjadi agung karena melewati banyak rintangan seperti Jalalludin Rumi, Bunda Theresa, Milarepa, Mahatma Gandhi), awalnya bencana terlihat sebagai cobaan.
Namun begitu dialami, ia memperkuat otot-otot kehidupan. Persis seperti otot fisik yang kuat karena banyak dilatih.
Bila begini cara memandangnya, bencana bukannya membawa kegelapan kemarahan, ia membawa cahaya penerang.

Berbekalkan ketekunan, bencana membuat batin kebal dengan penderitaan.
Kekebalan ini kemudian membuat manusia bisa menyambut semua dualitas (baik-buruk, sukses-gagal, hidup-mati) dengan senyuman yang menawan.
Inilah secercah cahaya keheningan. Ia menyisakan hanya satu hal: compassion is the only nourishment.
Dualitas memang lenyap, kasih sayang kemudian membuat kehidupan berputar.

BERSYUKUR DAN BERJUANG

Di beranda belakang sebuah rumah mewah, tampak seorang anak sedang berbincang dengan ayahnya.
"Ayah, nenek dulu pernah bercerita kepadaku bahwa kakek dan nenek waktu masih muda sangat miskin, tidak punya uang sehingga tidak bisa terus menyekolahkan ayah. Ayah pun harus bekerja membantu berjualan kue ke pasar-pasar," tanya sang anak. "Apa betul begitu, Yah?" Sang ayah kemudian bertanya, "Memang begitulah keadaannya, Nak. Mengapa kau tanyakan hal itu anakku?"

Si anak menjawab, "Aku membayangkan saja ngeri Yah. Lantas, Apakah Ayah pernah menyesali masa lalu yang serba kekurangan, sekolah rendah dan susah begitu?"
Sambil mengelus sayang putranya, ayah menjawab, "Tidak Nak, ayah tidak pernah menyesalinya dan tidak akan mau menukar dengan apapun masa lalu itu. Bahkan, ayah mensyukurinya. Karena, kalau tidak ada penderitaan seperti itu, mungkin ayah tidak akan punya semangat untuk belajar dan bekerja, berjuang dan belajar lagi, hingga bisa berhasil seperti saat ini."
Mendapat jawaban demikian, si anak melanjutkan pertanyaannya, "Kalau begitu, aku tidak mungkin sukses seperti Ayah dong?"
Heran dengan pemikiran anaknya, sang ayah kembali bertanya, "Kenapa Kau berpikir tidak bisa sukses seperti ayah?"

"Lho kata Ayah tadi, penderitaan masa lalu yang serba susah lah yang membuat Ayah berhasil. Padahal aku dilahirkan dalam keluarga mampu, kan ayahku orang sukses," ujar si anak sambil menatap bangga ayahnya. "Ayah tidak sekolah tinggi, sedangkan Ayah menyuruhku kalau bisa sekolah sampai S2 dan menguasai 3 bahasa, Inggris, Mandarin dan IT. Kalau aku ingin sukses seperti Ayah kan nggak bisa dong. Kan aku nggak susah seperti Ayah dulu?"

Mengetahui pemikiran sang anak, ayah pun tertawa. "Hahaha, memang kamu mau jadi anak orang miskin dan jualan kue?" canda ayah.
Digoda sang ayah, si anak menjawab, "Yaaaah, kan udah nggak bisa memilih. Tapi kayaknya kalau bisa memilih pun, aku memilih seperti sekarang saja deh. Enak sih, punya papa mama baik dan mampu seperti papa mamaku hehehe."
 
Sang ayah lantas melanjutkan perkataannya, "Karena itulah, kamu harus bersyukur tidak perlu susah seperti ayah dulu.
Yang jelas, siapa orangtua kita dan bagaimana keadaan masa lalu itu, kaya atau miskin, kita tidak bisa memilih, ya kan?
Maka, ayah tidak pernah menyesali masa lalu. Malah bersyukur pada masa lalu yang penuh dengan penderitaan, dari sana ayah belajar hanya penderitaan hidup yang dapat mengajarkan pada manusia akan arti keindahan dan nilai kehidupan.
 
Yang jelas, di kehidupan ini ada hukum perubahan yang berlaku.
Kita bisa merubah keadaan jika kita mau belajar, berusaha, dan berjuang habis-habisan.
Tuhan memberi kita segala kemampuan itu, gunakan sebaik-baiknya. Dimulai dari keadaan kita saat ini, entah miskin atau kaya.
Niscaya, semua usaha kita diberkati dan kamu pun bisa sukses melebihi ayah saat ini.
Ingat, teruslah berdoa serta berusaha. Belajar dan bekerjalah lebih keras dan giat. Maka, cita-citamu akan tercapai."

4.02.2010

Penelope Cruz

Penelope Cruz, siapa yang tidak mengenal sosok yang satu ini. Aktris asal Spanyol yang sukses membintangi sejumlah judul film karya sutradara terkenal , tentu tidak serta merta langsung mendapatkan tempat di jajaran selebritis dengan karir gemilang di Hollywood saat ini.

Aktris yang memulai debut filmnya di tahun 1992 dengan judul film �Jam�n, jam�n� itupun sama sekali tidak menyangka bisa seperti saat ini, sukses, terkenal, dan bergelimang harta. Namun demikian, bakat seni yang mengalir dalam dirinya-lah yang pada akhirnya mampu membawanya hingga meraih sukses seperti sekarang.

Sudah sejak kecil, bakat seninya, seperti menari ballet dan berakting sudah terlihat. Dan kesempatannya untuk bisa memasuki dunia hiburan, ia dapatkan setelah tampil dalam video klip sebuah grup synthpop asal Spanyol, Mecano, dimana dari situlah, tawaran untuk menjadi presenter dan pemain film mulai berdatangan menghampirinya.

Sadar akan peluang yang ada dihadapannya, Penelope pun tidak tinggal diam. Ia berusaha untuk terus melatih aktingnya agar bisa semakin baik dan lebih berbobot lagi.

Selain itu, ia pun juga mulai mendalami pengetahuan bahasa beberapa negara, seperti bahasa Perancis dan Itali. Dengan begitu, jika ia mendapatkan film yang mengharuskannya berdialog selain dalam bahasa Inggris dan Spanyol, ia tidak perlu takut dan binggung lagi.

"Kini aku menguasai empat bahasa, Spanyol, Inggris, Perancis dan Itali. Hal itu lakukan, bukan saja lantaran profesiku, namun juga manfaat yang bisa aku dapatkan serta tantangan untuk bisa mempelajari dialek dari bahasa asing tersebut," ujarnya, seperti yang dikutip dari majalah The Women�s Weekly.

Keseriusannya memilih akting sebagai karirnya yang ia mulai rintis sejak 17 tahun silam, membuatnya semakin giat mengasah kemampuan aktingnya. Terlebih dengan banyaknya wajah-wajah baru yang menghiasi dunia perfilman Hollywood, dimana mantan kekasih aktor Tom Cruise itupun harus memiliki karakternya sendiri agar berbeda dari aktris lainnya.

Melihat kesuksesannya saat ini, tentu membuat kita bertanya-tanya. Bagaimana kekasih Javier Bardem itu bisa eksis menjalani karirnya hingga saat ini. untuk itu, Penelope pun bersedia membagikan tips suksesnya kepada Anda.
Berani berkata "Tidak"
Menurut Penelope, mengatakan �Tidak� untuk hal-hal yang dirasa tidak sesuai dengan kata hati dan pandangannya, memuatnya tumbuh sebagai sosok yang memiliki pendirian.
"Aku orangnya keras kepala. Dan itu sering membuatku bertemu dengan banyak masalah sejak masih kecil, berani berkata �Tidak, Aku tidak setuju�. Namun bagiku itulah bagian dari sikap untuk memiliki pendirian dalam memandang hidup," katanya.
Cari identitas diri
Cantik bukan poin utama seseorang bisa berhasil meraih apa yang diinginkannya. Menurut Penelope, tanpa karakter dan bakat kuat dalam diri, seseorang hanya akan mampu eksis sesaat dalam karirnya, terutama di dunia akting, karena tidak memiliki "identitas" sendiri.
"Jadilah diri sendiri. Dengan begitu kau akan lebih mengenal siapa dirimu sebenarnya, begitupun orang lain dalam memahami dan mengenalmu luar-dalam."
Jadilah sosok yang sama
Sukses meraih keberhasilan dalam karir, tidak membuat aktis bermata indah ini lupa akan siapa dirinya dulu sebelum menjadi aktris se-terkenal sekarang. Di mata keluarga dan sahabat-sahabatnya, Penelope masihlah sosok yang sama seperti yang mereka kenal sejak 35 tahun silam, Penelope yang rendah hati dan bersahaja.
Memakai gaun, sepatu dan tas mewah dari perancang terkenal dunia, serta dirias dan di tata rambutnya oleh make up artist dan hair stylist ternama, bagi Penelope hanyalah semata untuk menunjang profesinya sebagai public figure.
Terlepas dari itu semua, ia mengaku hanyalah seorang wanita yang lebih senang berkumpul dengan keluarga tercinta dan sahabatnya, tanpa make up dan embel-embel keartisan yang melekat padanya.
"Selalu ingat, kau masih orang yang sama, yang mencoba untuk terus belajar dan mengembangkan diri." akunya.
Pantang menyerah
Untuk mencapai sebuah kesuksesan, Penelope butuh waktu yang tidak sebentar. Ia mengaku, diawal ia merintis karir, tidak sedikit orang yang meremehkan kemampuan aktingnya.
Akan tetapi, ia telan opini tersebut dan ia merubahnya menjadi energi positif yang membuatnya semakin terpacu untuk membuktikan pada dirinya dan orang lain, kalau dirinya patut diperhitungkan sebagai sosok yang memiliki talenta yang kuat.
"Butuh pengorbanan hingga kau bisa menikmati kesuksesanmu saat ini. Dan aku pun melakukan hal itu," ucap pemilik nama lengkap Pen�lope Cruz S�nchez itu.

1.22.2010

Jangan Melihat Kebelakan

Niccolo Paganini, seorang pemain biola yang terkenal diabad 19,
memainkan konser untuk para pemujanya yang memenuhi ruangan. Dia bermain
biola dengan diiringi orkestra penuh.

Tiba-tiba salah satu senar biolanya putus. Keringat dingin mulai
membasahi dahinya tapi dia meneruskan memainkan lagunya. Kejadian yang
sangat mengejutkan senar biolanya yang lain pun putus satu persatu hanya
meninggalkan satu senar, tetapi dia tetap main. Ketika para penonton
melihat dia hanya memiliki satu senar dan tetap bermain, mereka berdiri
dan berteriak,"Hebat, hebat."

Setelah tepuk tangan riuh memujanya, Paganini menyuruh mereka untuk
duduk. Mereka menyadari tidak mungkin dia dapat bermain dengan satu
senar. Paganini memberi hormat pada para penonton dan memberi isyarat
pada dirigen orkestra untuk meneruskan bagian akhir dari lagunya itu.

Dengan mata berbinar dia berteriak, "Peganini dengan satu senar". Dia
menaruh biolanya di dagunya dan memulai memainkan bagian akhir dari
lagunya tersebut dengan indahnya. Penonton sangat terkejut dan kagum
pada kejadian ini.

Renungan:
Hidup kita dipenuhi oleh persoalan,kekuatira n, kekecewaan dan semua hal
yang tidak baik. Secara jujur, kita seringkali mencurahkan terlalu
banyak waktu mengkonsentrasikan pada senar kita yang putus dan segala
sesuatu yang kita tidak dapat ubah.

Apakah anda masih memikirkan senar-senar Anda yang putus dalam hidup
Anda?
Apakah senar terakhir nadanya tidak indah lagi? Jika demikian, janganlah
melihat ke belakang,majulah terus, mainkan senar satu-satunya itu.
Mainkanlah itu dengan indahnya.

Dibalik Kisah Seorang Papa

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya.....

Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.

Lalu bagaimana dengan Papa?

Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,

tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng,

tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil......

Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.

Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu...

Kemudian Mama bilang : "Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya" ,

Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka....

Tapi sadarkah kamu?

Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.

Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang"

Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :

"Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!".

Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.

Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja....

Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: "Tidak boleh!".

Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?

Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga..

Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu...

Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama....

Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,

Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?

Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia.... :')

Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..

Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?

Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya..

Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir...

Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut - larut...

Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .

Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?

"Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa"

Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.

Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti...

Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa

Ketika kamu menjadi gadis dewasa....

Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain...

Papa harus melepasmu di bandara.

Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?

Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. ..

Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.

Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik ya sayang".

Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT...kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.

Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.

Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan...

Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : "Tidak.... Tidak bisa!"

Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan "Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu".

Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.

Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.

Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat "putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang"

Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.

Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..

Karena Papa tahu.....

Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya....

Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia....

Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?

Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa....

Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: "Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik....

Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik....

Bahagiakanlah ia bersama suaminya..."

Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk...

Dengan rambut yang telah dan semakin memutih....

Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya....

Papa telah menyelesaikan tugasnya....

Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita...

Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat...

Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis...

Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .

Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal...

Buku Telpon

Suatu ketika di ruang kelas sekolah menengah, terlihat suatu
percakapan yang
menarik.
Seorang guru, dengan buku di tangan,
tampak menanyakan sesuatu kepada
murid-muridnya di depan kelas.
Sementara itu, dari mulutnya keluar sebuah pertanyaan:

"Anak-anak, kita sudah hampir
memasuki saat-saat terakhir bersekolah di sini. Setelah 3 tahun, pencapaian
terbesar apa yang membuatmu bahagia?
Adakah hal-hal besar yang kalian
peroleh selama ini?"

Murid-murid tampak saling pandang. Terdengar suara
lagi dari guru, "Ya,ceritakanlah satu hal terbesar yang terjadi dalam
hidupmu...".
Lagi-lagi semua murid saling pandang, hingga kemudian tangan
guru itu menunjuk pada seorang murid.
"Nah, kamu yang berkacamata, adakah hal
besar yang kamu temui? Berbagilah dengan teman-temanmu. ..".

Sesaat,
terlontar sebuah cerita dari si murid, "Seminggu yang lalu, adalah masa yang
sangat besar buatku. Orangtuaku, baru saja membelikan sebuah
motor, persis
seperti yang aku impikan selama ini." Matanya berbinar, tangannya tampak seperti
sedang menunggang sesuatu. "Motor sport dengan
lampu yang berkilat, pasti
tak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan itu!"

Sang guru tersenyum.
Tangannya menunjuk beberapa murid lainnya. Maka,terdengarlah beragam cerita dari
murid-murid yang hadir.
Ada anak yang baru saja mendapatkan
sebuah mobil. Ada pula yang baru dapat melewatkan liburan di luar negeri.
Sementara, ada murid yang bercerita
tentang keberhasilannya mendaki gunung.

Semuanya bercerita tentang
hal-hal besar yang mereka temui dan mereka dapatkan. Hampir semua telah bicara,
hingga terdengar suara dari arah
belakang. "Pak Guru..Pak, aku belum
bercerita." Rupanya, ada seorang anak di pojok kanan yang luput dipanggil.
Matanya berbinar.
Mata yang sama seperti saat anak-anak
lainnya bercerita tentang kisah besar yang mereka punya.

"Maaf, silahkan,
ayo berbagi dengan kami semua," ujar Pak Guru kepada murid berambut lurus
itu.
"Apa hal terbesar yang kamu
dapatkan?" Pak Guru mengulang pertanyaannya kembali.

"Keberhasilan
terbesar buatku, dan juga buat keluargaku adalah..saat nama keluarga kami
tercantum dalam buku telpon yang baru terbit 3 hari yang
lalu."

Sesaat senyap. Tak sedetik, terdengar tawa-tawa kecil yang
memenuhi ruangan kelas itu. Ada yang tersenyum simpul, terkikik-kikik, bahkan
tertawa terbahak mendengar cerita itu.

Dari sudut kelas, ada yang
berkomentar, "Ha? aku sudah sejak lahir menemukan nama keluargaku di buku
telpon. Buku Telpon? Betapa
menyedihkan. ..hahaha. " Dari sudut lain, ada
pula yang menimpali, "Apa tak ada hal besar lain Yang kamu dapat selain hal yang
lumrah semacam itu?"

Lagi-lagi terdengar derai-derai tawa kecil yang
masih memenuhi ruangan. Pak Guru berusaha menengahi situasi ini, sambil
mengangkat tangan.
"Tenang sebentar anak-anak, kita
belum mendengar cerita selanjutnya. Silahkan teruskan, Nak..."

Anak
berambut lurus itu pun kembali angkat bicara. "Ya. Memang itulah kebahagiaan
terbesar yang pernah aku dapatkan. Dulu, Ayahku bukanlah orang
baik-baik.
Karenanya, kami sering berpindah-pindah rumah. Kami tak pernah menetap, karena
selalu merasa di kejar polisi."

Matanya tampak menerawang. Ada bias
pantulan cermin dari kedua bola mata anak itu, dan ia melanjutkan. "Tapi, kini
Ayah telah berubah. Dia telah
mau menjadi Ayah yang baik buat keluargaku.
Sayang, semua itu butuh waktu dan usaha. Tak pernah ada Bank dan Yayasan yang
mau memberikan pinjaman
modal buat bekerja."

"Hingga setahun lalu,
ada seseorang yang rela meminjamkan modal buat Ayahku. Dan kini, Ayah berhasil.
Bukan hanya itu, Ayah juga membeli sebuah
rumah kecil buat kami. Dan kami
tak perlu berpindah-pindah lagi."

"Tahukah kalian, apa artinya kalau nama
keluargamu ada di buku telpon? Itu artinya, aku tak perlu lagi merasa takut
setiap malam dibangunkan ayah
untuk terus berlari. Itu artinya, aku tak
perlu lagi kehilangan teman-teman yang aku sayangi. Itu juga berarti, aku tak
harus tidur di
dalam mobil setiap malam yang dingin. Dan itu artinya, aku,
dan juga keluargaku, adalah sama derajatnya dengan keluarga-keluarga
lainnya."

Matanya kembali menerawang. Ada bulir bening yang mengalir.
"Itu artinya, akan ada harapan-harapan baru yang aku dapatkan nanti...
" Kelas terdiam. Pak Guru tersenyum haru.
Murid-murid tertunduk.

Mereka baru saja menyaksikan sebuah fragmen
tentang kehidupan. Mereka juga baru saja mendapatkan hikmah tentang pencapaian
besar, dan kebahagiaan.
Mereka juga belajar satu hal : "Bersyukurlah dan
berbesar hatilah setiap kali mendengar keberhasilan orang lain. Sekecil apapun.
Sebesar apapun."

11.20.2009

Suara Hati Dali, Anakku !

Bulan Februari 2009 kemaren gw harus mondar-mandir ke sekolah Dali, tempat Dali sehari-hari menuntut ilmu di kelas 2. Waktu itu gw memang harus berurusan dengan wali kelasnya. Berdasarkan pengamatan atas tingkah laku dan sikap belajar Dali di kelas, wali kelasnya mengatakan bahwa ada masalah yang dikhawatirkan apabila dibiarkan dapat menghambat prestasi Dali kelak, mengingat di kelas tiga nanti akan diberlakukan sistem belajar baru dimana setiap satu mata pelajaran akan diajarkan oleh satu guru, sedangkan untuk kelas satu dan dua maseh diberlakukan sistem dimana satu guru mengajarkan semua mata pelajaran. Sistem belajar dan mengajar untuk kelas satu dan dua memungkinkan sang guru yang sekaligus sebagai wali kelas untuk berinteraksi dan mengenal murid-muridnya satu persatu secara lebih dekat dan intens, yang memang bertujuan menggali dan mengenal keunikan termasuk kelebihan dan kelemahan serta menyiapkan pondasi yang kuat dan kemandirian murid untuk mengikuti ritme belajar dan mengajar di kelas-kelas selanjutnya dimana sistem baru yang diterapkan di kelas tiga dan seterusnya itu akan menuntut kecakapan dan ketekunan siswa secara mandiri.

Saat gw tanyakan (dengan hati deg-degan) apa masalah Dali, wali kelas justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga Dali terlihat banyak melamun dan tidak konsentrasi sewaktu belajar di kelas, walaupun sampai semester ini prestasi Dali lumayan bagus, masih di atas nilai rata-rata kelasnya. Mau tidak mau, gw harus jujur menceritakan semua yang berkaitan dengan Dali secara terbuka, termasuk kelemahan gw sebagai orang tua tunggal yang tidak bisa 100% mendampingi Dali belajar di rumah karena harus membagi waktu antara bekerja dan anak-anak. Dan gw terkejut sewaktu wali kelasnya mengatakan bahwa Beliau telah mengetahui tentang kondisi orangtua Dali. Menjawab keterkejutan gw itu, Beliaupun memberitahukan lebih lanjut bahwa pada awal semester ketiga, Dali sendiri yang datang kepada Beliau dan menceritakan bahwa kedua orangtuanya telah berpisah dan kini papanya sudah menikah lagi. Terus terang, gw speachless mendengar kabar tersebut.

Setelah berdiskusi lebih lanjut membahas tiap kemungkinan penyebab masalah untuk mencari pemecahannya, akhirnya gw dan Beliau sepakat untuk meminta bantuan psikolog sekolah. Sebagai langkah awal, psikolog sekolah menyarankan Dali untuk mengikuti test IQ dan kepribadian sebagai dasar acuan pembanding. Atas seijin kepala sekolah, Dali pun mengikuti test IQ terlebih dahulu yang dilakukan setelah jam belajar sekolah berakhir.

Besoknya Dali kembali mengikuti test kepribadian yang dilakukan secara oral dan tertulis. Gw tidak melihat ataupun mendengar adanya keluhan maupun sikap keberatan dari Dali. Semua terlihat normal saja di mataku.

Seminggu kemudian, gw sendirian kembali pergi menemui psikolog sekolah untuk mengetahui hasil test IQ dan kepribadian Dali. Sebenarnya psikolog tersebut juga mewajibkan papa-nya Dali untuk datang tetapi seperti yang telah gw duga, tidak ada tanggapan dari mantan suami walopun kebetulan saat itu dia sedang dinas kerja di Jakarta. Psikolog sekolah yang tampil bersahaja namun sangat ramah dan penuh affeksi itupun segera memberitahukan hasil test IQ Dali.
Angka kecerdasan rata-rata Dali mencapai kriteria cerdas, sehingga tidak perlu dikhawatirkan dalam hal intelejensia, tapi angka untuk kemampuan verbalnya minim alias kurang baik, dimana permasalahan Dali sangat mungkin terletak di area verbal nya.

Dalam laporan penjelasan, gw seperti membaca curhatan 'suara hati Dali' yang membuat gw melihat diri gw semakin jauh dari gambaran idealnya seorang ibu.

- Dali ingin mamanya percaya untuk membiarkan dirinya bermain bebas walaupun sebentar saja. Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini gw kurang memberi kesempatan kepada Dali untuk bermain bebas. Gw mengakui kalo selama ini gw tidak membiarkan Dali dan adeknya untuk bermain lari-larian, manjat-manjat karena gw takut Dali dan Zahra jatuh atau terluka. Gw juga mengakui kalo gw membatasi mereka untuk bermain games dan komputer karena gw khawatir mereka akan lupa belajar selain mereka juga harus meluangkan sebagian waktu mereka untuk mengikuti beberapa kursus di luar sekolah. Tetapi ternyata Dali menyimpan suatu permintaan dan keinginan dalam hatinya yang hanya sederhana yaitu diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.

- Dali ingin papanya melakukan perbuatan yang sama seperti yang papanya minta pada Dali. Intinya bahwa Dali tidak mau diminta atau diajari oleh papanya apabila dia lihat papanya sendiri tidak melakukan hal itu. Misalnya papanya seringkali meminta Dali untuk belajar dengan rajin supaya raportnya bagus, sedangkan Dali berpikir papanya saja tidak pernah mendampingi dia belajar dan tidak pernah mau mengambil raportnya, jadi papa cuman bohong saja perhatian ma raportnya Dali.

- Dali ingin mamanya tidak menganggap Dali harus menjadi seperti mamanya waktu kecil. Gw juga harus mengakui seringkali berkata 'waktu mama seumuran kamu...' saat gw lagi memberikan 'ceramah' ke anak2. Dalam banyak hal gw merasa bahwa pengalaman masa kecil dan hidup gw yang suka bekerja keras, disiplin, tidak cengeng dan mandiri merupakan sikap yang juga harus dimiliki oleh Dali dan Zahra, terlebih kondisi masa kecil mereka sekarang lebih tidak kondusif dibanding masa kecil gw dulu. Tanpa disadari, sepertinya gw ingin menjadikan Dali dan Zahra persis seperti diri gw. Gw lupa dengan konsep dasar kalo setiap individu itu adalah unik dan mempunyai potensi serta kelemahan masing-masing yang berbeda dan tidak bisa disamakan satu sama lain. Gw dan mungkin kebanyakan orangtua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk mini sachet.

- Dali ingin mama dan papanya tidak marah kalo Dali nakal atau berbuat salah. Tanpa disadari, orangtua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar yang kadang hanya demi gengsi semata (ingin anaknya selalu kelihatan sempurna di depan mata orang lain), hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepada anak untuk berbuat kesalahan.
Maka anak2pun cenderung akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus dilakukan untuk mencegah atau menghentikannya.
GW menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, karena anak2 akan bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

- Dali ingin mamanya berbicara tentang hal-hal yang tidak hanya tentang sekolah saja. Gw cukup kaget kebiasaan untuk memaksimalkan waktu yang tidak banyak sepulang dari kantor untuk menanyakan ke anak2 tentang kejadian, pelajaran dan PR sekolah yang menurut gw sangat penting namun ternyata buat Dali bukanlah sesuatu yang penting.
Dengan jawaban Dali yang polos dan jujur itu, gw diingatkan bahwa perhatian pada nilai dan kecerdasan tidak lebih penting dari pada hal-hal lainnya seperti kasih sayang.

- Dali ingin papanya minta maaf pada mama karena sekarang mama harus bekerja dari pagi sampai malam mencari uang untuk sekolah Dali dan dedek dan papa juga harus minta maaf pada Dali dan dedek karena tidak pernah mau mengambil raport Dali dan dedek di sekolah. Kata-kata yang satu ini hampir membuat gw tidak dapat menahan air mata, tidak pernah menyangka Dali bisa berpikiran seperti itu. Gw telah menorehkan kekecewaan yang begitu dalam di hati anakku itu.
Memang dalam banyak hal orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orangtua juga tak luput dari banyak kesalahan.

- Kadang Dali ingin mamanya mencium dan memeluk Dali erat-erat seperti mama mencium dan memeluk Zahra. Sebenarnya gw pernah mencoba untuk mencium dan memeluk Dali tapi waktu itu Dali menolak karena katanya Dali kan laki-laki dan udah gede.. masa dicium kayak anak kecil, malu dilihat teman2nya. Jadi gw pikir emang itu yang Dali inginkan. Ternyata gw salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan.

- Terakhir Dali menuliskan bahwa dia ingin papanya sering menelpon dan mengunjungi Dali dan Zahra ke Jakarta.
Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah suka lupa bahwa perhatian dan kasih sayang serta peran mereka pun sangat diperlukan oleh anak2nya walaupun sudah ada ibunya sehari-hari yang mendampingi mereka.

Suara hati Dali yang polos dan jujur itu, membuat gw malu karena menyadari bahwa ternyata selama ini gw tidak sepenuhnya benar-benar memahami anak2ku, sebagai orangtua gw sangat egois lebih memikirkan kepentingan diri sendiri dan kepentingan lainnya dibandingkan kepentingan anak2. Dalam banyak tingkah polah anak2, yang menyenangkan sekaligus menjengkelkan, ternyata mengandung banyak pesan yang tidak bisa mereka sampaikan secara nyata kepada kita. Dan tugas kita lah sebagai orangtua harus tanggap atas signal-signal yang mereka berikan. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi itu juga berarti para orangtua juga harus menghormati hak dan keinginan mereka sebagai anak.

Saya Buta, Tolong Saya !

Seorang anak laki2 tunanetra duduk di tangga sebuah bangunan dengan sebuah topi terletak di dekat kakinya. Ia mengangkat sebuah papan yang bertuliskan: 'Saya buta, tolong saya.' Hanya ada beberapa keping uang di dalam topi itu.
Seorang pria berjalan melewati tempat anak ini. Ia mengambil beberapa keping uang dari sakunya dan menjatuhkannya ke dalam topi itu. Lalu ia mengambil papan, membaliknya dan menulis beberapa kata. Pria ini menaruh papan itu kembali sehingga orang yang lalu lalang dapat melihat apa yang ia baru tulis. Segera sesudahnya, topi itu pun terisi penuh. Semakin banyak orang memberi uang ke anak tuna netra ini. Sore itu pria yang telah mengubah kata-kata di papan tersebut datang untuk melihat perkembangan yang terjadi. Anak ini mengenali langkah kakinya dan bertanya, 'Apakah bapak yang telah mengubah tulisan di papanku tadi pagi? Apa yang bapak tulis?'
Pria itu berkata, 'Saya hanya menuliskan sebuah kebenaran. Saya menyampaikan apa yang kamu telah tulis dengan cara yang berbeda.' Apa yang ia telah tulis adalah: 'Hari ini adalah hari yang indah dan saya tidak bisa melihatnya.'
Bukankah tulisan yang pertama dengan yang kedua sebenarnya sama saja?
Tentu arti kedua tulisan itu sama, yaitu bahwa anak itu buta. Tetapi, tulisan yang pertama hanya mengatakan bahwa anak itu buta. Sedangkan, tulisan yang kedua mengatakan kepada orang-orang bahwa mereka sangatlah beruntung bahwa mereka dapat melihat. Apakah kita perlu terkejut melihat tulisan yang kedua lebih efektif?
Moral dari cerita ini: Bersyukurlah untuk segala yang kau miliki. Jadilah kreatif. Jadilah innovatif. Berpikirlah dari sudut pandang yang berbeda dan positif.
Ajaklah orang-orang lain menuju hal-hal yang baik dengan hikmat. Jalani hidup ini tanpa dalih dan mengasihi tanpa rasa sesal. Ketika hidup memberi engkau 100 alasan untuk menangis, tunjukkan pada hidup bahwa engkau memiliki 1000 alasan untuk tersenyum.
Hadapi masa lalumu tanpa sesal.
Tangani saat sekarang dengan percaya diri.
Bersiaplah untuk masa depan tanpa rasa takut.
Peganglah iman dan tanggalkan ketakutan.

Orang bijak berkata, 'Hidup harus menjadi sebuah proses perbaikan yang terus berlanjut, membuang kejahatan dan mengembangkan kebaikan... Jika engkau ingin menjalani hidup tanpa rasa takut, engkau harus memiliki hati nurani yang baik sebagai tiketnya.

Hal yang terindah adalah melihat seseorang tersenyum..
Tapi yang terlebih indah adalah mengetahui bahwa engkau adalah alasan di belakangnya! !!

Jangan Benci Aku, Mama !

Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya
lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku, memberinya nama
Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak
terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk
dijadikan budak atau pelayan.

Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya
juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun melahirkan kembali
seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica. Saya
sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya
pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.
Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel
pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya
dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya.

Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun
kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin
menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal
seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta
Angelica. Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja.
Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk
membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak
kejadian itu.

Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia Pernikahan
kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang
semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi
lebih sabar dan penyayang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyeko
lahkan dia di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat
tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya. Sampai suatu malam. Malam
di mana saya bermimpi tentang seorang anak. Wajahnya agak tampan namun
tampak pucat sekali.

Ia melihat ke arah saya. Sambil tersenyum ia berkata, "Tante, Tante kenal
mama saya? Saya lindu cekali pada Mommy!"

Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya,
“Tunggu, sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?"

"Nama saya Elic, Tante."

"Eric? Eric... Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric?"

Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai
perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga. Tiba-tiba terlintas
kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar
dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya
dulu.Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya harus mati...,
mati..., mati...

Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan
tangan, tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric,
Mommy akan menjemputmu Eric... Sore itu saya memarkir mobil biru saya di
samping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari
samping. "Mary, apa yang sebenarnya terjadi?"

"Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang
telah saya lakukan dulu." Tapi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak.
Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya.. Ia telah memberikan suami yang
begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis saya reda, saya keluar dari
mobil diikuti oleh Brad dari belakang.. Mata saya menatap lekat pada gubuk
yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa
gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric… Eric… Saya
meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih saya
berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu
itu. Gelap sekali...Tidak terlihat sesuatu apa pun! Perlahan mata saya mulai
terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu. Namun saya tidak
menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut
tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan
seksama... Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut
sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya.

Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, saya pun
keluar dari ruangan itu... Air mata saya mengalir dengan deras. Saat itu
saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil
untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang di
belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali.
Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia
seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba
menegur saya dengan suaranya yang parau.

"Heii...! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!"

Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, "Ibu, apa ibu kenal dengan
seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?"

Ia menjawab, "Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk! Tahukah
kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus
menunggu ibunya dan memanggil, 'Mommy..., mommy!' Karena tidak tega, saya
terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal bersama saya. Walaupun
saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya
tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric
meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama
bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu..."

Saya pun membaca tulisan di kertas itu... "Mommy, mengapa Mommy tidak pernah
kembali lagi...? Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi
saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric.
Bye, Mom..."

Saya menjerit histeris membaca surat itu. "Bu, tolong katakan... katakan di
mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang! Saya tidak akan
meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!"

Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras. "Nyonya, semua sudah terlambat.
Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di
belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi
menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke
dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila
melihatnya ada di dalam sana ... Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya
dari belakang gubuk ini... Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang
lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana . Nyonya, dosa anda tidak
terampuni!"

Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.

(kisah nyata dari Irlandia Utara)

Mengucap Syukur

Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya sendiri karena kebutaannya itu.
Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya.
Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya.
Dia berkata akan menikahi kekasihnya hanya jika dia bisa melihat dunia.

Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepadanya sehingga dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasihnya.
Kekasihnya bertanya, "Sekarang kamu bisa melihat dunia. Apakah kamu mau menikah denganku?"
Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya ternyata buta. Dia menolak untuk menikah dengannya.

Kekasihnya pergi dengan air mata mengalir, dan kemudian menulis sepucuk surat singkat kepada gadis itu, "Sayangku, tolong jaga baik-baik mata saya."

* * * * *

Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah.
Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.

Hidup adalah anugerah

Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata-kata kasar - Ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.
Sebelum engkau mengeluh mengenai cita rasa makananmu - Ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
Sebelum engkau mengeluh tentang suami atau isterimu - Ingatlah akan seseorang yang menangis kepada Tuhan meminta pasangan hidup.

Hari ini sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu - Ingatlah akan seseorang yang begitu cepat pergi ke surga.
Sebelum engkau mengeluh tentang anak-anakmu - Ingatlah akan seseorang yang begitu mengaharapkan kehadiran seorang anak, tetapi tidak mendapatnya.
Sebelum engkau bertengkar karena rumahmu yang kotor, dan tidak ada yang membersihkan atau menyapu lantai - Ingatlah akan orang gelandangan yang tinggal di jalanan.
Sebelum merengek karena harus menyopir terlalu jauh - Ingatlah akan sesorang yang harus berjalan kaki untuk menempuh jarak yang sama.

Dan ketika engkau lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu - Ingatlah akan para penganguran, orang cacat dan mereka yang menginginkan pekerjaanmu.
Sebelum engkau menuding atau menyalahkan orang lain - Ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang tidak berdosa dan kita harus menghadap pengadilan Tuhan.
Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu - Pasanglah senyuman di wajahmu dan berterima kasihlah pada Tuhan karena engkau masih hidup dan ada di dunia ini.

Hidup adalah anugerah, jalanilah, nikmatilah, rayakan dan isilah itu.

NIKMATILAH SETIAP SAAT DALAM HIDUPMU, KARENA MUNGKIN ITU TIDAK AKAN TERULANG LAGI!

Cinta Dari Nenda

Pada suatu hari ada seorang ibu yang baru pulang dari pasar, dia melihat ada 3 orang berjanggut di halaman rumahnya, ketiga pria itu terlihat letih dan lapar, ibu itu mengajak mereka masuk untuk makan, tapi mereka bertanya, "apakah suamimu sudah pulang?", "belum" jawab ibu itu, "kalau begitu kami tidak bisa masuk".

Ketika suaminya pulang diceritakannya tentang ketiga orang itu, suaminya menyuruhnya mengajak ketiga orang itu untuk masuk, ketika ia menyuruh mereka masuk seorang berjanggut itu berkata, "yang itu bernama kekayaan, yang itu kesuksesan dan saya cinta, kalian harus memilih salah satu dari kami untuk masuk ke dalam rumahmu, kami tidak bisa masuk bersama sama"

Ibu itu masuk ke dalam dan menceritakan apa yang dikatakan orang itu, suaminya berkata, "suruh kekayaan masuk, saya ingin rumah ini penuh dengan kekayaan"Tapi ibu itu berkata, "lebih baik kesuksesan, biar semua pekerjaan kita selalu penuh dengan kesuksesan," Anak2 mereka berkata, "lebih baik cinta, biar rumah ini selalu penuh dengan cinta,"Akhirnya semua setuju untuk mengajak cinta masuk, ibu itu kembali ke depan dan berkata, "yang bernama cinta silakan masuk...

"Ketika orang yang bernama cinta berjalan masuk kedua orang yang lain mengikutinya, si ibu heran dan berkata, "kami hanya mengundang cinta, kenapa kalian ikut?"Orang itu berkata, "kalau ibu memilih kekayaan atau kesuksesan, kami hanya bisa berjalan sendiri2, tapi karena ibu memilih CINTA, kami berdua akan selalu mengikutinya kemanapun dia berjalan, sebenarnya kami berdua ini buta, hanya cinta yang bisa melihat dan menuntun kami kemanapun dan kapanpun juga..

Apakah Anda sudah mengedepankan cinta?

Belalang dan Anjing

Di suatu hutan, hiduplah seekor belalang muda yang cerdik.
Belalang muda ini adalah belalang yang lompatannya paling tinggi diantara sesama belalang yang lainnya.
Belalang muda ini sangat membanggakan kemampuan lompatannya ini.
Sehari-harinya belalang tersebut melompat dari atas tanah ke dahan-dahan pohon yang tinggi, dan kemudian makan daun-daunan yang ada di atas pohon tersebut.
Dari atas pohon tersebut belalang dapat melihat satu desa di kejauhan yang kelihatannya indah dan sejuk.
Timbul satu keinginan di dalam hatinya untuk suatu saat dapat pergi kesana. Suatu hari, saat yang dinantikan itu tibalah.
Teman setianya, seekor burung merpati, mengajaknya untuk terbang dan pergi ke desa tersebut.
Dengan semangat yang meluap-luap, kedua binatang itu pergi bersama ke desa tersebut.

Setelah mendarat mereka mulai berjalan-jalan melihat keindahan desa itu.
Akhirnya mereka sampai di suatu taman yang indah berpagar tinggi, yang dijaga oleh seekor anjing besar.
Belalang itu bertanya kepada anjing, "Siapakah kamu, dan apa yang kamu lakukan disini?"
"Aku adalah anjing penjaga taman ini. Aku dipilih oleh majikanku karena aku adalah anjing terbaik di desa ini" jawab anjing dengan sombongnya.
Mendengar perkataan si anjing, panaslah hati belalang muda.
Dia lalu berkata lagi "Hmm, tidak semua binatang bisa kau kalahkan.
Aku menantangmu untuk membuktikan bahwa aku bisa mengalahkanmu. Aku menantangmu untuk bertanding melompat, siapakah yang paling tinggi diantara kita".
"Baik", jawab si anjing. "Di depan sana ada pagar yang tinggi. Mari kita bertanding, siapakah yang bisa melompati pagar tersebut".

Keduanya lalu berbarengan menuju ke pagar tersebut.
Kesempatan pertama adalah si anjing. Setelah mengambil ancang-ancang, anjing itu lalu berlari dengan kencang, melompat, dan berhasil melompati pagar yang setinggi orang dewasa tersebut tersebut.
Kesempatan berikutnya adalah si belalang muda. Dengan sekuat tenaga belalang tersebut melompat. Namun ternyata kekuatan lompatannya hanya mencapai tiga perempat tinggi pagar tersebut, dan kemudian belalang itu jatuh kembali ke tempatnya semula.
Dia lalu mencoba melompat lagi dan melompat lagi, namun ternyata gagal pula.

Si anjing lalu menghampiri belalang dan sambil tertawa berkata ,"Nah belalang, apa lagi yang mau kamu katakan sekarang ? Kamu sudah kalah".
"Belum", jawab si belalang. "Tantangan pertama tadi kamu yang menentukan.
Beranikah kamu sekarang jika saya yang menentukan tantangan kedua ?"
"Apapun tantangan itu, aku siap" tukas si anjing.

Belalang lalu berkata lagi, "Tantangan kedua ini sederhana saja. Kita berlomba melompat di tempat.
Pemenangnya akan diukur bukan dari seberapa tinggi dia melompat, dari diukur dari lompatan yang dilakukan tersebut berapa kali tinggi tubuhnya".

Anjing kembali yang mencoba pertama kali. Dari hasil lompatannya, ternyata anjing berhasil melompat setinggi empat kali tinggi tubuhnya.
Berikutnya adalah giliran si belalang. Lompatan belalang hanya setinggi setengah dari lompatan anjing, namun ketinggian lompatan tersebut ternyata setara dengan empat puluh kali tinggi tubuhnya. Dan belalang pun menjadi pemenang untuk lomba yang kedua ini.

Kali ini anjing menghampiri belalang dengan rasa kagum. "Hebat. Kamu menjadi pemenang untuk perlombaan kedua ini. Tapi pemenangnya belum ada. Kita masih harus mengadakan lomba ketiga", kata si anjing.
"Tidak perlu", jawab si belalang. "Karena pada dasarnya pemenang dari setiap perlombaan yang kita adakan adalah mereka yang menentukan standard perlombaannya. Pada saat lomba pertama kamu yang menentukan standard perlombaannya dan kamu yang menang. Demikian pula lomba kedua saya yang menentukan, saya pula yang menang.

INTINYA ADALAH, KAMU DAN SAYA MEMPUNYAI POTENSI DAN STANDARD YANG BERBEDA TENTANG KEMENANGAN.
ADALAH TIDAK BIJAKSANA MEMBANDINGKAN POTENSI KITA DENGAN YANG LAIN.
KEMENANGAN SEJATI ADALAH KETIKA DENGAN POTENSI YANG KAMU MILIKI, KAMU BISA MELAMPAUI STANDARD DIRIMU SENDIRI.

REFLECTION :
Rekan-rekan yang terkasih, seberapakah tinggikah anda `melompat' ?
Dalam kehidupan, seringkali tanpa sadar kita mencoba membandingkan kemajuan dan perkembangan diri kita dengan standard orang lain.
Dan seringkali lebih banyak kekecewaan daripada kebahagiaan yang didapat. Mengapa ?
Karena kita masing-masing dilahirkan dengan potensi yang berbeda, dengan bakat yang berbeda, dalam lingkungan yang berbeda, dan cara pandang yang berbeda tentang kehidupan.
Cara yang tepat untuk mengukur seberapa jauh diri kita telah berkembang dan maju, adalah membandingkan diri kita saat ini dengan diri kita dimasa lalu.
Apakah anda hari ini lebih kaya dibanding setahun yang lalu ?
Apakah anda hari ini lebih bisa mengontrol emosi dibanding bulan lalu ?
Apakah anda hari ini lebih sehat dibanding kemarin ?
Apakah anda hari ini lebih bijaksana dibanding setahun yang lalu ?
Kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas orang lain, namun kemenangan atas diri sendiri.

Botol Acar Sang Ayah

Setahuku, botol acar besar itu selalu ada di lantai di samping lemari di kamar orangtuaku.
Sebelum tidur, Ayah selalu mengosongkan kantong celananya lalu memasukkan semua uang recehnya ke dalam botol itu.
Sebagai anak kecil, aku senang mendengar gemerincing koin yang dijatuhkan ke dalam botol itu.
Bunyi gemericingnya nyaring jika botol itu baru terisi sedikit. Nada gemerincingnya menjadi rendah ketika isinya semakin penuh.
Aku suka jongkok di lantai di depan botol itu, mengagumi keping-keping perak dan tembaga yang berkilauan seperti harta karun bajak laut ketika sinar matahari menembus jendela kamar tidur.

Jika isinya sudah penuh, Ayah menuangkan koin-koin itu ke meja dapur, menghitung jumlahnya sebelumnya membawanya ke bank.
Membawa keping-keping koin itu ke bank selalu merupakan peristiwa besar.
Koin-koin itu ditata rapi di dalam kotak kardus dan diletakkan di antara aku dan Ayah di truk tuanya.
Setiap kali kami pergi ke bank, Ayah memandangku dengan penuh harap. "Karena koin-koin ini kau tidak perlu kerja di pabrik tekstil. Nasibmu akan lebih baik daripada
nasibku. Kota tua dan pabrik tekstil disini takkan bisa menahanmu."
Setiap kali menyorongkan kotak kardus berisi koin itu ke kasir bank, Ayah selalu tersenyum bangga. "Ini uang kuliah putraku. Dia takkan bekerja di pabrik tekstil seumur hidup seperti aku.".

Pulang dari bank, kami selalu merayakan peristiwa itu dengan membeli es krim.
Aku selalu memilih es krim cokelat. Ayah selalu memilih yang vanila.
Setelah menerima kembalian dari penjual es krim, Ayah selalu menunjukkan beberapa keping koin kembalian itu kepadaku. "Sampai di rumah, kita isi botol itu lagi."

Ayah selalu menyuruhku memasukkan koin-koin pertama ke dalam botol yang masih kosong.
Ketika koin-koin itu jatuh bergemerincing nyaring, kami saling berpandangan sambil tersenyum. "Kau akan bisa kuliah berkat koin satu penny, nickle, dime, dan quarter," katanya. "Kau pasti bisa kuliah. ayah jamin."

Tahun demi tahun berlalu. Aku akhirnya memang berhasil kuliah dan lulus dari universitas dan mendapat pekerjaan di kota lain.
Pernah, waktu mengunjungi orangtuaku, aku menelepon dari telepon di kamar tidur mereka. Kulihat botol acar itu tak ada lagi. Botol acar itu sudah menyelesaikan tugasnya dan sudah di pindahkan entah ke mana.
Leherku serasa tercekat ketika mataku memandang lantai di samping lemari tempat botol acar itu biasa di letakkan.
Ayahku bukan orang yang banyak bicara, dia tidak pernah menceramahi aku tentang pentingnya tekad yang kuat, ketekunan, dan keyakinan.
Bagiku, botol acar itu telah mengajarkan nilai-nilai itu dengan lebih nyata daripada kata-kata indah.

Setelah menikah, kuceritakan kepada Susan, istriku, betapa pentingnya peran botol acar yang tampaknya sepele itu dalam hidupku.
Bagiku, botol acar itu melambangkan betapa besarnya cinta Ayah padaku.
Dalam keadaan keuangan sesulit apa pun, setiap malam Ayah selalu mengisi botol acar itu dengan koin.
Bahkan di musim panas ketika ayah diberhentikan dari pabrik tekstil dan Ibu terpaksa hanya menyajikan buncis kalengan selama berminggu-minggu, satu keping pun tak pernah di ambil dari botol acar itu.
Sebaliknya, sambil memandangku dari seberang meja dan menyiram buncis itu dengan saus agar ada rasanya sedikit, Ayah semakin meneguhkan tekadnya untuk mencarikan jalan keluar bagiku. "Kalau kau sudah tamat kuliah," katanya dengan mata berkilat-kilat, "kau tak perlu makan buncis kecuali jika kau memang mau."

Liburan Natal pertama setelah lahirnya putri kami Jessica, kami habiskan di rumah orangtuaku.
Setelah makan malam, Ayah dan Ibu duduk berdampingan di sofa, bergantian memandangku cucu pertama mereka.
Jessica menagis lirih. Kemudian susan mengambilnya dari pelukan Ayah.
"Mungkin popoknya basah," kata susan, lalu di bawanya Jessica ke kamar tidur orangtuaku untuk di ganti popoknya.

Susan kembali ke ruang keluarga denga mata berkaca-kaca.
Dia meletakkan Jessica ke pangkuan Ayah, lalu menggandeng tanganku dan tanpa berkata apa-apa mengajakku ke kamar.
"Lihat," katanya lembut, matanya memandang lantai di samping lemari.
Aku terkejut.
Di lantai, seakan tidak pernah di singkirkan, berdiri botol acar yang sudah tua itu. Di dalamnya ada beberapa keping koin.

Aku mendekati botol itu, merogoh saku celanaku, dan mengeluarkan segenggam koin.
Dengan perasaan haru, kumasukkan koin-koin itu kedalam botol.
Aku mengangkat kepala dan melihat Ayah. Dia menggendong Jessica dan tanpa suara telah masuk ke kamar.
Kami berpandangan.
Aku tahu, Ayah juga merasakan keharuan yang sama.
Kami tak kuasa berkata-kata. .

Dua Bata Jelek

Pada beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan seorang kawan yang baru menikah 1 tahun… mereka adalah pasangan yang sudah cukup lama menjalin hubungan sebelum memutuskan untuk menikah...(maklum.. mereka sudah pacaran mulai kuliah..).
Akan tetapi pada saat itu kawan tersebut bercerita bahwa dia mengalami masalah rumah tangga yang cukup berat, bahkan dia berencana untuk menceraikan istri yang baru dinikahi tersebut...
Kemudian saya meminta dia untuk menceritakan apa ”masalah berat” yang mengancam rumah tangganya tersebut.
Ternyata yang menjadi masalah adalah cuma karena salah pengertian saja... sang istri belum memahami apa kemauan dari sang suami...
Saya lalu teringat sebuah kisah yang pernah saya baca beberapa tahun yang lalu dan mungkin bisa bermanfaat bagi kawan tersebut..

Kisah ini tentang seorang fisikawan yang memutuskan untuk menjadi biksu.
Seperti yang kita ketahui, tidak ada biksu yang kaya... mereka terbiasa hidup apa adanya..(padahal kalau saja dia mau melanjutkan hidup sebagai fisikawan pastilah dia sudah kaya raya sekarang...)
Pada suatu ketika para biksu tersebut ingin membangun sebuah wihara untuk mereka beribadah.
Akan tetapi setelah mereka sanggup membeli tanah untuk wihara, mereka jatuh bangkrut. Mereka terjerat hutang.
Tidak ada bangunan diatas tanah itu, bahkan sebuah gubuk pun tidak ada.
Pada minggu – minggu pertama, mereka tidur diatas pintu – pintu tua yang mereka beli murah dari pasar loak.
Mereka mengganjal pintu – pintu itu dengan batu bata disetiap sudut untuk meninggikannya dari tanah (tidak ada matras – tentu saja, mereka adalah petapa hutan).
Mereka hanyalah biksu – biksu miskin yang memerlukan sebuah bangunan. Mereka tidak mampu membayar tukang (bahan – bahan bangunan saja sudah cukup mahal).
Jadi fisikawan tersebut harus belajar cara bertukang : bagaimana menyiapkan pondasi, menyemen, dan memasang batu bata, mendirikan atap, memasang pipa – pipa (pokoknya semuanya...).

Dia adalah seorang mantan fisikawan dan guru SMA sebelum menjadi biksu, tidak terbiasa bekerja kasar.
Setelah beberapa tahun dia menjadi cukup terampil bertukang. Tetapi pada saat memulai, ternyata bertukang itu sangatlah sulit.
Kelihatannya gampang, membuat tembok dengan batu bata : tinggal tuangkan seonggok semen, sedikit ketok sana, sedikit ketok sini.
Ketika dia mulai memasang batu bata, dia ketok satu sisi untuk meratakannya, tapi sisi lainnya malah jadi naik.
Lalu dia ratakan sisi yang naik itu, batu batanya jadi melenceng. Setelah diratakan kembali, sisi yang pertama malah terangkat lagi !!!!

Sebagai seorang biksu, dia memiliki kesabaran dan waktu sebanyak yang dia butuhkan.
Dia pastikan setiap batu bata terpasang dengan sempurna, tak peduli berapa lama jadinya.
Akhirnya dia berhasil menyelesaikan tembok batu batanya yang pertama dan berdiri dibaliknya untuk mengagumi hasil karyanya.

Saat itulah dia melihatnya... Oh tidak... dia telah keliru menyusun dua buah batu bata.
Semua batu bata yang lain sudah lurus, tetapi dua batu bata tersebut tampak miring. Mereka terlihat jelek sekali. Mereka merusak keseluruhan tembok.

Saat itu semen sudah terlanjur keras untuk mencabut dua batu bata itu, jadi biksu itu bertanya kepada kepala wihara apakah dia boleh membongkar tembok itu dan membangun kembali tembok yang baru, atau kalau perlu, meledakkannya sekalian.
Biksu itu telah berbuat kesalahan dan dia menjadi gundah gulana.
Kepala wihara bilang tidak perlu, biarkan saja temboknya seperti itu.

Ketika biksu tersebut membawa tamu pertamanya berkunjung mengelilingi wihara yang baru setengah jadi, dia selalu menghindarkan membawa mereka melewati tembok batu bata yang dia buat. Biksu itu tidak suka jika ada orang yang melihatnya.

Lalu suatu hari, kira – kira 3 – 4 bulan setelah dia membangun tembok itu, biksu tersebut berjalan dengan seorang pengunjung dan dia melihatnya.....
”Itu tembok yang indah,” pengunjung itu berkomentar dengan santainya.

”Pak,” biksu itu menjawab dengan terkejut, ”apakah kacamata Anda tertinggal di mobil? Apakah penglihatan anda sedang terganggu? Tidakkah anda melihat dua batu bata jelek yang merusak keseluruhan tembok itu?”
Apa yang pengunjung itu ucapkan selanjutnya telah mengubah keseluruhan pandangan biksu tersebut terhadap tembok itu, berkenaan dengan diri dia sendiri dan banyak aspek lainnya dalam kehidupan. Dia berkata, ”Ya, saya bisa melihat dua bata jelek itu, namun saya juga melihat 998 batu bata yang bagus.”

Biksu itu tertegun. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga bulan, dia mampu melihat batu bata - batu bata lainnya selain dua bata jelek itu.
Di atas, dibawah, di kiri, dan di kanan dari dua bata jelek itu adalah batu bata – batu bata yang bagus, batu bata yang sempurna.
Lebih dari itu, jumlah bata yang terpasang sempurna, jauh lebih banyak daripada dua bata jelek itu.
Selama ini mata biksu itu hanya terpusat pada dua kesalahan yang telah dia perbuat.... dia terbutakan oleh hal - hal lainnya.
Itulah sebabnya biksu tersebut tidak tahan melihat tembok itu, atau tidak rela membiarkan orang lain melihatnya juga.
Itulah sebabnya dia ingin menghancurkannya. Sekarang dia dapat melihat batu bata – batu bata yang bagus, tembok itu jadi tampak tidak terlalu buruk lagi.
Tembok itu menjadi, seperti yang dikatakan pengunjung tadi, ” Sebuah tembok yang indah.”

Tembok itu masih tetap berdiri sampai hari ini, setelah puluhan tahun, namun biksu itu sudah lupa dimana letak persisnya dua bata jelek itu berada.
Dia benar – benar tidak dapat melihat kesalahan itu lagi.


Berapa banyak orang yang memutuskan hubungan atau bercerai karena semua yang mereka lihat dari diri pasangannya adalah ”dua bata jelek?” Berapa banyak diantara kita yang menjadi depresi atau bahkan ingin bunuh diri, karena semua yang kita lihat dalam diri kita hanyalah ”dua bata jelek?” Pada kenyataannya, ada banyak, jauh lebih banyak batu bata yang bagus (diatas, dibawah, dikiri, dan dikanan dari yang jelek....) namun pada saat itu kita tidak mampu melihatnya. Malahan setiap kali kita melihatnya, mata kita hanya terfokus pada kesalahan yang kita perbuat. Semua yang kita lihat adalah kesalahan, dan kita mengira yang ada hanyalah kekeliruan semata, karena itu kita ingin menghancurkannya.
Dan terkadang, sayangnya, kita benar – benar menghancurkan ”sebuah tembok yang indah”.

Kita semua memiliki ”dua buah bata jelek”, namun batu bata yang baik didalam diri kita masing – masing jauh lebih banyak daripada bata yang jelek. Begitu kita melihat batu bata yang baik, semua akan tampak tidak terlalu buruk lagi. Bukan hanya kita bisa berdamai dengan diri sendiri, termasuk dengan kesalahan – kesalahan kita namun juga bisa menkmati hidup bersama pasangan kita....

Saya juga mempunyai beberapa kawan yang berprofesi sebagai tukang bangunan. Mereka memberi tahu saya tentang rahasia profesi mereka :
”Kami para tukang bangunan selalu membuat kesalahan,” katanya, ”tetapi kami bilang kepada pelanggan kami bahwa itu adalah ”ciri unik” yang tiada duanya di rumah – rumah yang lain. Lalu kami menagih biaya extra untuk ”ciri unik” tersebut !!!”

Jadi, ”ciri unik” di rumah anda, bisa jadi, awalnya adalah sebuah kesalahan. Dengan cara yang sama, apa yang anda kira sebagai kesalahan pada diri anda, rekan anda, pasangan anda, atau hidup pada umumnya, dapat menjadi sebuah ”ciri unik”, yang memperkaya hidup anda di dunia ini, ketika anda tidak lagi terfokus padanya....

Berbagi dan Berbahagialah

Alkisah, ada seorang anak kelas 5 SD bernama Adi.

Setiap hari, Adi tiba di sekolah pagi-pagi sekali. Biasanya saat ia datang,
belum ada satu pun teman sekelasnya yang datang.

Suatu hari, saat istirahat, Adi terkejut melihat bekal yang dibawanya dari
rumah berkurang separuh .

"Siapakah gerangan yang mengambil bekalku?" batinnya dalam hati sambil
mengitarkan pandangan curiga ke seputar kelas.

Sepulang dari sekolah, diceritakan kasus bekal yang hilang kepada ibunya.

"Ibu tidak lupa menyiapkan bekal untukku sebanyak dua potong kan?" tanya Adi
penasaran.

"Iya, Ibu ingat sekali menyiapkan bekalmu dua potong, bukan sepotong," jawab
ibu Adi meyakinkan.

Seminggu kemudian, saat kembali ke kelas, tanpa sengaja,

Adi terkejut melihat penjaga sekolah mengendap-endap memasuki kelas yang
masih kosong.

Dia membuka tas Adi dan mengambil sepotong bekalnya. Kemudian bergegas pergi
dengan muka tampak tertekan dan murung.

Sepulang dari sekolah, Adi menceritakan kejadian itu kepada ibunya.

"Ibu, ternyata pencurinya si penjaga sekolah. Apa yang harus Adi lakukan,
Bu?

Kalau Adi laporkan ke wali kelas atau kepala sekolah, dia pasti diberi
sanksi, bahkan mungkin dikeluarkan dari sekolah.

Kasihan kan, Bu. Walaupun orangnya baik, tapi yang diperbuat kan salah".

Dengan tersenyum sayang, ibunya menjawab, "Saran ibu, jangan dilaporkan dulu
ke sekolah.

Ibu kenal baik keluarga penjaga sekolahmu itu. Dia bukan penjahat. Pasti
karena terpaksa dia mengambil setengah bekalmu.

Dan masih berbaik hati meninggalkan setengahnya untuk Adi agar Adi tidak
kelaparan.

Begini saja, besok akan Ibu siapkan bekal lebih banyak, dua kali dari
biasanya.

Adi berikan sebungkus kepada penjaga sekolah. Cukup berikan saja, tidak
perlu menegur atau berkata apapun kepadanya.

Kita lihat apa reaksinya, setuju?"

Keesokan harinya, Adi menemui penjaga sekolah dan menyerahkan sebungkus
bekal.

Penjaga sekolah terkejut sesaat, wajahnya pucat dan takjub.

Dengan tangan gemetar, diterimanya bingkisan itu. Tampak matanya
berkaca-kaca.

Sambil terbata-bata dia berkata, "Terima kasih, terima kasih Nak. Bapak
minta maaf telah mengambil setengah jatah bekal Nak Adi.

Bapak sungguh menyesal dan dihantui perasaan bersalah. Bapak lakukan karena
terpaksa.

Anak bapak sakit, sedangkan uang kami tidak cukup untuk membeli makanan
karena istri bapak memerlukan biaya untuk melahirkan.

Mohon maafkan Bapak, Nak. Bapak berjanji tidak akan mengulanginya.

Dan terima kasih karena tidak melaporkan kepada pihak sekolah sehingga Bapak
masih bisa bekerja.

Sampaikan permintaan maaf dan terima kasih kami pada ibumu.

Sungguh beliau seorang ibu yang baik dan bijak".

Sambil mengangguk senang, Adi meninggalkan penjaga sekolahnya.


Teman-teman yang luar biasa,

kesalahan, walau dengan alasan apapun, tidak akan menjadi benar.

Mau menyadari, mengakui kesalahan, dan meminta maaf adalah sebuah kebesaran
jiwa.

Dan berjanji untuk tidak mengulangi adalah kebijaksanaan tertinggi.

Sebaliknya, bisa memaafkan orang yang bersalah kepada kita bahkan rela
memberi bantuan dan menyadarkannya,

bukan hanya damai di hati tetapi sekaligus menunjukkan kita, manusia,
sebagai makhluk yang ber-Tuhan.

Maka jelas sekali, jika bisa berbagi, kita akan bahagia. Share and be happy.

A Mother's Intuition

From Chicken Soup for the Soul: Power Moms
By Lynne Spears

The intuitive mind is a sacred gift...
~Albert Einstein

When I look back on my life as a mother, I know that one of my biggest lessons learned (finally), was that I should always trust my instincts, because my gut consistently told the truth. Sometimes, I found this out in hindsight, after I had ignored the little red flags waving on my mama radar.
When Britney was about eight, we got talked into doing a "Little Miss Something" pageant, because this one supposedly stressed talent over beauty. Britney was begging me to do it, and part of me thought, well, what's the harm if this truly is a talent competition? The other part of me knew I was rationalizing because it just didn't feel right. The truth is, I never wanted her near one of those beauty pageants for little girls, because they were set up in a way that seemed so unfair to some children.
While a young girl could work hard to make her leap higher or her steps more precise, there was nothing much she could do to improve the countenance God gave her.
The pageant lived up to my fears, and then some. The mothers were appalling backstage, fussing over their daughters and backstabbing the other contestants. I was repulsed by the whole thing. Of course, since we were completely green about the pageant system, I put her in the wrong dress (it didn't even fit properly) and the wrong kind of socks. Britney ended up placing near the bottom, and the poor little thing was in tears.
I should have known better, and in fact, I did know better. I wanted Britney to feel good about herself because of who she was and how she treated people, not because some silly pageant told her she was or was not pretty enough. I had failed to trust my gut. It's our job as moms to act on that sixth sense we have, the one that tells us something is not as it seems; when I ignored it the result was tears and a very unpleasant day.
But on another occasion, when the stakes were much higher, I followed my instincts, and I thank God to this day that I did.
My oldest child, Bryan, had chronic asthma from the time he was a baby until he was nine years old. The members of the Spears family were regulars at the McComb, Mississippi hospital and children's clinic; we knew everyone in pediatrics on a first name basis and even spent one Christmas in the hospital with a sick little Bryan.
One incident will stick with me forever as an example of the power of a mother's inner knowledge when it comes to her children.
Britney was only two weeks old, and Bryan was having one of his asthma episodes; he was congested and his breath was a bit labored. I took my little boy, then just four, to the children's clinic, where a doctor diagnosed him with bronchitis and asthma once again and prescribed the usual medication.
Bryan was a very active boy, and usually, the asthma medicine would accelerate this in him, not the other way around. This time, though, he seemed very sluggish, and around bedtime I noticed him hanging his head off my bed, something he would do when he couldn't get enough breath.
I took one look at him and knew this episode was much more serious than the others that had preceded it. My antennae shot up. His breathing was loud and gasping, and his skin color had turned from a healthy pink to an alarming, mottled white with a bluish tinge. I called his daddy, Jamie, into the room and he was also very concerned about Bryan's lack of color. As I cradled him in my arms, I called the doctor in a panic. He was quite calm, instructing me to give him more of the inhalant and wait for the medicine to take effect, which we did three times in the next thirty minutes. Surely the doctor knew what he was talking about, right? Inwardly, I battled between trusting a seasoned physician and believing my own gut, which was telling me Bryan was in big trouble.
I called the doctor again, insisting Bryan needed to be brought in despite his assurances that the medicine would work soon. He finally agreed to meet us at the hospital, where Jamie, Bryan and I rushed as soon as Jamie's aunt had come over to care for baby Britney.
Throughout the night, the doctor worked on Bryan, trying to get him to breathe properly. At one point, he even thought he might have to do a tracheotomy to open his breathing passages. Finally, after many tortuous hours and various medicines and procedures, the doctor administered some kind of steroid, and it worked--Bryan began breathing regularly, much to our enormous relief. (Steroid use for treating pediatric asthma was relatively new at the time.)
The next morning, the doctor told me how dire the situation had been for Bryan. He was so glad I had insisted on bringing my son in to the hospital, because Bryan would not have made it through the night without medical assistance.
In that life or death situation, my mother's instinct kicked into high gear and a tragedy was averted. What I learned that night was to pay attention to those strong impulses (it was the more subtle clues that I sometimes failed to heed). My three children are grown now and out of the house, but I still try and listen to those gut feelings, big and small, when it comes to them. I know better than most the very real power of a mother's intuition.

Ayam dan Bebek

Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan pada suatu malam musim panas yang indah, seusai makan malam. Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mereka mendengar suara di kejauhan: "Kuek ! Kuek !"

"Dengar, itu pasti suara ayam", kata si istri.

"Bukan, bukan. Itu suara bebek, "kata si suami.

"Nggak, aku yakin itu ayam," si istri bersikeras.

"Mustahil. Suara yam itu 'kukuruyuuuuk !', bebek itu 'kuek ! kuek !. Itu bebek, sayang ", kata si suami dengan disertai gejala-gejala awal kejengkelan.

"Kuek ! kuek !" terdengar lagi.

"Nah, tuh ! Itu suara bebek, " kata si suami.

"Bukan, sayang. Itu ayam. Aku yakin betul," tanda si istri sembari menghentakkan kaki.

"Dengar ya ! Itu a...da...lah. ... Be...bek. B-E-B-E-K. Bebek ! Mengerti ?" si suami berkata dengan gusar.

"Tapi itu ayam", masih saja si istri bersikeras.

"Itu jelas-jelas bue..bebek, kamu...kamu. ..." (terdengar lagi suara "Kuek ! Kuek !" sebelum si suami mengatakan sesuatu yang sebaiknya tak dikatakannya. )

Si istri sudah hampir menangis, "Tapi itu ayam.... "

Si suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya, dan akhirnya ingat kenapa dia menikahinya. Wajahnya melembut dan katanya dengan mesra, "Maafkan aku, sayang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara ayam kok."

"Terima kasih, sayang, " kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.

"Kuek ! Kuek !", terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka berjalan bersama dalam cinta.

Maksud dari cerita di atas bahwa si suami akhirnya sadar adalah siapa sih yang peduli itu ayam atau bebek? Yang penting adalah keharmonisan mereka, yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam indah itu. Berapa banyak pernikahan yang hancur hanya gara-gara persoalan sepele? Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal "ayam atau bebek"?

Ketika kita memahami cerita tersebut, kita akan ingat apa yang menjadi prioritas kita. Pernikahan jauh lebih penting ketimbang mencari siapa yang benar tentang apakah itu ayam atau bebek. Lagi pula, betapa sering kita merasa yakin , amat sangat mantap, mutlak bahwa kita itu benar, namun belakangan ternyata kita salah. Lho, siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang direkayasa genetik sehingga bersuara seperti bebek!